wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)


Sabtu, 22 Oktober 2011

Bahayanya Menolak Imunisasi

oleh Agnes Tri Harjaningrum pada 22 Oktober 2011 jam 23:52

http://www.facebook.com/notes/agnes-tri-harjaningrum/bahayanya-menolak-imunisasi/10150354357848796


Mulanya, ia adalah seorang wanita yang sungguh rupawan. Namun, kecantikan itu lenyap pada usianya yang ke 26 setelah penyakit smallpox (variola atau cacar monyet) menyerangnya dan meninggalkan jejak parut alias bopeng di wajahnya. Alis wajahnya pun menghilang akibat penyakit yang sama(1). Di masanya dahulu, smallpox memang penyakit yang cukup mengerikan, penyakit infeksi pembunuh terbesar. Di akhir abad ke-18 penyakit ini telah membunuh 400.000 warga eropa per tahunnya, yang sebagian besar adalah anak-anak. Bahkan diperkirakan sekira 300-500 juta orang di abad ke-20 telah meninggal akibat penyakit ini(2). Selain memunculkan bopeng yang membuat penderitanya menjadi buruk rupa dan menyebabkan kematian, smallpox juga menyebabkan kebutaan serta penyakit tulang. Penyakit  yang disebabkan oleh virus variola ini pun sangat mudah menular, hanya lewat udara, percikan ludah atau berdekatan saja, orang lain bisa tertular(3), sungguh seram bukan?

 

Untungnya, vaksinasi untuk melawan smallpox yang pertama kali ditemukan oleh Edward jenner berhasil membuat penyakit ini lenyap dari muka bumi. Tahun 1979, WHO mengumumkan  bahwa penyakit ini telah berhasil dieradikasi(4). Bayangkan kalau penyakit ini masih ada hingga kini, berapa banyak wajah rupawan yang harus jadi korban, berapa banyak nyawa lagi yang harus terbang. Edward Jenner patut diberi penghargaan memang. Namun, dibalik sukses Edward Jenner sebagai penemu vaksin pertama kali, inoculation, atau menanamkan bibit penyakit pada orang sehat, agar terbentuk imunitas tubuh terhadap penyakit tersebut sebetulnya telah dilakukan berabad-abad sebelumnya oleh bangsa Cina(5). Cara ini pun telah dilakukan oleh bangsa Turki di jaman kerajaan Ottoman(6).

 

Wanita yang diceritakan di atas adalah Lady Mary Wortley Montagu(1,6), seorang istri ambassador Inggris yang pada tahun 1717 sempat tinggal di Turki selama 2 tahun untuk menemani suaminya yang bertugas disana. Saat tinggal di Turki, ia memperhatikan kebiasaan orang Turki dan menyaksikan seorang wanita Turki yang melakukan inoculation  untuk melawan penyakit smallpox. Wanita Turki ini mengambil nanah dari luka penderita penyakit smallpox. Lalu, dibuatlah beberapa sayatan di tubuh anak yang sehat, dan nanah tersebut ditanamkan pada sayatan itu dan dibalut.  Lady Mary melihat anak yang sehat itu mengalami demam beberapa hari, namun kemudian sembuh dan kebal terhadap penyakit smallpox. Saat pulang ke negaranya, Lady Mary dengan antusias mempromosikan cara Turki itu. Namun ia ditentang oleh kalangan medis ketika itu dengan alasan konyol namun masuk akal untuk kondisi saat itu: karena dia adalah seorang perempuan, dan karena ide yang dia bawa berasal dari Timur (Turki). Meskipun begitu, Lady Mary tetap melakukan inoculasi melawan smallpox untuk anak lelakinya, dan anak lelakinya pun menjadi kebal terhadap smallpox. Beberapa puluh tahun kemudian, barulah Edward Jenner muncul dan mempublikasikan bukti penemuannya tentang vaksin Smallpox.

 

Jika melihat sejarah, ternyata awal mula munculnya vaksinasi berasal dari Bangsa Cina dan Turki (yang saat kerajaan Ottoman berkuasa negaranya berlandaskan Islam). Merekalah yang telah mempraktekan cikal bakal vaksinasi. Mengapa membaca sejarah dalam hal ini menjadi penting? Karena belakangan ini di Indonesia gerakan anti imunisasi mulai berkembang dan membuat para orangtua bimbang. Dari sejarah, kita bisa melihat dengan jernih asal muasal vaksinasi, dan apakah betul vaksinasi memang hanya merupakan teori konspirasi untuk melemahkan suatu kaum sehingga patut dihindari? Dan apakah betul manfaat vaksinasi lebih sedikit daripada kebaikannya sehingga layak untuk diantipati? Mari kita kaji lagi dengan seksama dan hati-hati.

 

Gerakan Anti-Imunisasi

 

Sebetulnya anti imunisasi sudah ada sejak jaman dulu, bahkan sejak Edward Jenner dengan vaksinasi temuannya berhasil mengurangi kasus smallpox dengan sangat signifikan. Poland GA dan Jacobson RM di tahun 2001(7) dalam artikelnya yang diterbitkan oleh Vaccine jurnal mengatakan bahwa CDC (The Center for Disease Control and Prevention) telah membuat booklet yang didalamnya mengumpulkan kritik dan keberatan dari para anti imunisasi berkaitan dengan vaksinasi. Selain alasan teori konspirasi dan politik seperti kecurigaan terhadap keuntungan  yang didapat perusahaan vaksin, isu kaum minoritas, serta genocide ( pembunuhan masal suatu kaum), isu-isu lain juga muncul. Jika membaca website-website anti imunisasi dalam internet, isue-isue tersebut memang sering disebut-sebut diantaranya: bahwa penyakit sudah mulai hilang sebelum vaksin digunakan, jadi buat apa divaksinasi; bahwa alih-alih meningkatkan kekebalan tubuh, vaksin malah menyebabkan kesakitan dan kematian; bahwa penyakit yang bisa dicegah oleh vaksin sudah dieliminasi jadi buat apa divaksin; bahwa semakin banyaknya vaksin yang masuk bisa menyebabkan kekebalan tubuh kita terbebani; dan bahwa cara vaksin bekerja dengan menanamkan bibit penyakit untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah cara yang tidak alami.

 

Masih dalam jurnal yang sama dikatakan bahwa saat ini lebih dari 300 anti vaccine website tersebar di internet. Para aktivis anti imunisasi tersebut tidak hanya mengambil keuntungan dari kemudahan penyebaran informasi dari debat di internet, tetapi juga melebih-lebihkan dan mendramatisir kasus-kasus reaksi efek samping akibat imunisasi kepada media dan masyarakat. Informasi-informasi yang seolah ilmiah, padahal kadang salah kaprah atau diinterpretasikan secara salah menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat. Fakta yang sesungguhnya, data ilmiah yang valid dan bisa dipercaya telah dikaburkan oleh media dan gerakan anti imunisasi sehingga ketakutan masyarakat semakin menjadi.

 

Fakta yang tidak akurat

Dokter Ed Friedlander dalam websitenya(8) telah membeberkan beberapa contoh kesalahan interpretasi yang sering terjadi entah disengaja ataupun tidak oleh para anti imunisasi. Menurut dokter Ed, dengan membaca tulisan-tulisan yang sekilas mencantumkan sumber jurnal dan orang terkenal atau para ahli, orang awam yang tidak mengerti dunia ilmiah akan segera terpengaruh oleh tulisan-tulisan tersebut. Contohnya bisa kita lihat dari sebuah website anti imunisasi berbahasa Indonesia yang penulisannya seperti ini:

 

SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) naik dari 0.55 per 1000 orang di 1953 menjadi 12.8 per 1000 pada 1992 di Olmstead County, Minnesota. Puncak kejadian SIDS adalah umur 2 – 4 bulan, waktu di mana vaksin mulai diberikan kepada bayi. 85% kasus SIDS terjadi di 6 bulan pertama bayi. Persentase kasus SIDS telah naik dari 2.5 per 1000 menjadi 17.9 per 1000 dari 1953 sampai 1992. Naikan kematian akibat SIDS meningkat pada saat hampir semua penyakit anak-anak menurun karena perbaikan sanitasi dan kemajuan medikal kecuali SIDS. Kasus kematian SIDS meningkat pada saat jumlah vaksin yang diberikan kepada balita naik secara meyakinkan menjadi 36 per anak.”

 

Tulisan ini tidak memberikan kutipan dari mana sumber asli jurnal ilmiahnya, padahal data-data merujuk tentang penelitian yang semestinya berasal dari jurnal. Lalu, kalau melihat websitenya, ada jualan obat herbal juga dibaliknya. Sementara kalau melihat jurnal ilmiah, issue tentang vaksin DPT dan hubungannya dengan SIDS ini telah dibantah. Sejak 1982, telah dilakukan penelitian secara mendalam tentang hubungan antara vaksinasi DPT (Diptheri, Pertusis, dan Tetanus) dan SIDS, tapi ternyata tidak ada hubungannya. Dari telaah dokter Ed, data yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara vaksin DPT dan SIDS bisa didapatkan dari jurnal-jurnal berikut: J. Ped. 129: 695, 1996; Am. Fam. Phys. 54: 185, 1996. Malah berdasarkan penelitian dari Edinburgh (FEMS Immuno. Med. Micro. 25: 183, 1999) imunisasi DPT justru bisa melawan SIDS. SIDS sendiri kemungkinan malah disebabkan oleh pertusis (Eur. J. Ped. 155: 551, 1996.).

Begitu juga dengan issue lain seperti vaksin hepatitis B menyebabkan penyakit multiple sclerosis, issue vaksin MMR menyebabkan autism, dan issue-issue lainnya, semua sudah dibantah secara ilmiah(9).

 

Memang betul vaksin adalah obat yang tidak mungkin 100 persen sempurna dan aman, jadi  walaupun diciptakan untuk mencegah penyakit tapi tentu bisa menyebabkan efek samping. Sejak 1990,  CDC and FDA sudah membuat VAERS The Vaccine Adverse Event Reporting System  untuk mendeteksi reaksi yang tidak diinginkan atau efek samping dari vaksinasi(10). Setelah kasus dilaporkan, badan ini akan melacak apakah penyebabnya memang lantaran vaksinasi atau bukan. Setiap Negara pada prinsipnya mempunyai lembaga ini yang juga mempunyai fungsi yang sama.

 

Karena itu sangat disarankan  bagi orangtua agar  tetap well informed. Sebelum mengimunisasi  anaknya, bertanya, membaca atau mendapatkan informasi terlebih dahulu tentang kemungkinan efek samping dan reaksi yang ditimbulkan dari sebuah vaksin serta mengetahui tindakan pertama yang harus dilakukan ketika terjadi efek samping, sangatlah penting. Tapi seringnya, meskipun ada, efek samping vaksinasi hanyalah  ringan, jika pun berat umumnya tidak berhubungan langsung dengan imunisasi. Kalaupun ada hubungan dan akibatnya cukup fatal, itu terjadi hanya 1: 100.000 orang yang telah mendapatkan manfaat imunisasi.

 

Sayangnya jika ada kejadian fatal, media kerap meniup-niupkan dan membuatnya bombastis serta emosional, sementara  ketika kasus penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi mewabah dan menimbulkan kematian banyak orang, beritanya tidak dibesar-besarkan. Manfaat vaksin yang lebih besar ketimbang efek sampingnya  juga sering tidak dimunculkan. Alhasil masyarakat semakin ketakutan.

 

Sebagai contoh, Ben Goldrace, seorang dokter dan penulis science, dalam sebuah artikelnya menceritakan bahwa 1592 artikel di google news memberitakan tentang seorang gadis yang meninggal tiba-tiba setelah mendapatkan vaksin pencegah kanker leher rahim(25). Namun, hanya 363 artikel yang memberitakan bahwa setelah di autopsi ternyata penyebab kematian si gadis adalah lantaran telah memiliki tumor parah di paru-parunya yang sebelumnya tak terdiagnosa. Ini menunjukkan bahwa ketidakseimbangan media dalam pemberitaan ternyata bisa turut andil  dalam penyebaran rumor tak sedap tentang vaksin.

 

Dampak menolak imunisasi

 

Padahal dampak dari ketakutan dan menghindari imunisasi ini tidak sederhana, malah bisa mengancam nyawa. Dengan menolak imunisasi, sebenarnya yang rugi bukan anak  sendiri, tapi kita juga jadi membahayakan anak lain. Mari kita belajar dari merebaknya kasus pertusis di Amerika Serikat tahun 2010, beberapa sekolah harus ditutup dan setidaknya sepuluh bayi meninggal akibat merebaknya pertusis ini(11). Dan sejak tahun 2007, akibat gerakan anti vaksinasi, telah terjadi 77.000  penyakit yang sebetulnya bisa dicegah.  Dampak secara tidak langsungnya, gerakan anti vaksinasi ini juga telah mengakibatkan 700 kematian dalam rentang tahun yang sama.

 

Bukti-bukti ilmiah tentang manfaat vaksin sudah begitu banyak. Beragam data terpercaya menunjukkan bahwa bila angka cakupan vaksinasi menurun maka wabah penyakit akan muncul(11, 21). Masih perlu bukti lainnya? Selain fakta di Amerika Serikat tentang pertusis, bukti nyata  juga baru saja terjadi di Indonesia dengan merebaknya kasus Diptheri di Jawa Timur. Kasus diptheri tersebut telah menyerang 300 orang dan 11 anak meninggal karenanya. Artikel yang berjudul ‘Biofarma jawab pro kontra imunisasi’(12) mengaminkan bahwa dalam 6 tahun belakangan  cakupan imunisasi di Indonesia memang menurun dan salah satunya terjadi karena gerakan anti imunisasi. Kejadian ini sungguh membuat miris mengingat diphteri adalah penyakit ‘urdu’ yang sudah lama  kasusnya tidak ditemukan berkat adanya vaksinasi. Bukti lain lagi terjadi pada merebaknya kasus campak  baru-baru ini, yang terjadi di negara-negara dengan  angka cakupan vaksinasi turun seperti di Prancis, Belgia, Jerman, Romania, Serbia, Spanyol, Macedonia dan Turkey (11). Baru saja di tahun 2011 juga terjadi 334 kasus campak di Inggris, padahal tahun sebelumnya hanya 33 kasus.

 

Meskipun tampaknya sedikit, tapi kerugian akibat merebaknya penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi ini sungguh tak sedikit. Sebuah laporan kasus yang ditulis dalam Oxford jurnal(13) menjadi contohnya. Dilaporkan, seorang wanita yang tidak pernah mendapat imunisasi campak kemudian terkena campak lalu pergi ke sebuah rumah sakit di Swiss. Akibatnya setelah itu 14 orang tertular campak dari si wanita, termasuk 4 orang anak-anak. Kerugian yang ditimbulkan hanya dari 1 wanita ini diperkirakan berkisar $800.000, belum lagi dampak  kesakitan yang ditimbulkan pada 14 orang itu. Lihat, hanya dari satu orang saja yang menolak vaksinasi, ternyata dampaknya sungguh besar.

 

Data dalam negeri dari Jawa Barat mencatat bahwa pada tahun 2010 telah terjadi 25 KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit campak, dengan total 739 penderita, sedangkan pada tahun 2011 status KLB meningkat menjadi 35 kali dengan penderita sebanyak 950 orang(14). Kerugian yang ditimbulkan  sungguh besar, bukan hanya korban tapi juga biaya. Menurut menteri kesehatan, bila terjadi KLB di suatu daerah, dana yang dibutuhkan adalah 8 miliar rupiah, itu pun masih harus dibantu anggaran dari pusat sebesar 13-14 miliar(22). Jumlah uang  yang seharusnya tak perlu terbuang. Sungguh disayangkan.

 

Isue anti-imunisasi di Indonesia

 

Imunisasi hanyalah konspirasi Yahudi dan genocide

 

Bila kita tengok lebih dalam tentang isu anti imunisasi di Indonesia, belakangan kerap muncul artikel-artikel dan buku-buku bertuliskan ‘Bahaya imunisasi dan konspirasi yahudi’ lalu isinya kerap mencantumkan kalimat seperti ‘Imunisasi bertujuan untuk melenyapkan sebuah umat’. Teori konspirasi dilandasi oleh asumsi, kecurigaan yang seringnya tidak rasional, dan lebih memunculkan emosi sehingga sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Meski begitu, teori konspirasi sangat mudah berkembang dan dipercaya orang, namun sulit untuk dihilangkan(15).

 

Goertzel T (2010) (16), dalam tulisannya yang berjudul ‘Conspiracy theories in science’ mengakui bahwa karena hal-hal  yang tidak objektif diatas, para ilmuwan sering enggan untuk terlibat dalam diskusi teori konspirasi. Meskipun para ilmuwan telah bekerja sangat keras untuk tetap objektif dan rasional, misalnya dengan mensyaratkan tahapan-tahapan ilmiah dalam setiap penelitian; mensyaratkan bahwa setiap jurnal harus dikritisi lagi oleh sesama ilmuwan (peer reviewed) dan anonym pula, tapi tetap saja hasil kerja para ilmuwan akan diserang oleh teori konspirasi.

Ketakutan terhadap science dan keyakinan terhadap teori konspirasi  ini dampaknya sungguh tidak sederhana. Kasus desas desus MMR (Measleas, Mums, Rubela)  vaksin menyebabkan autism di Inggris  di tahun 1998 telah menyebabkan angka cakupan imunisasi di Inggris menurun tajam(17). Akibatnya  wabah campak dan gondongan disana merebak dan menyebabkan kematian serta cacat berat serta permanen. Meskipun Andrew Wakefield, dokter yang pertama kali membuat issue tersebut telah dikenakan sangsi (dicabut ijin prakteknya) dan MMR telah dinyatakan tidak ada hubungannya dengan autism(23), tapi dampak kematian dan penyakit yang ditimbulkan telah terjadi dan hanya bisa disesali.

 

Ketakutan akan science ini bukan sesuatu yang baru. Benjamin Franklin juga dulu takut  mengimunisasi keluarganya untuk melawan penyakit smallpox. Namun kemudian dia menyesal ketika anak lelakinya meninggal di tahun 1736 akibat penyakit tersebut(16). Contoh lain akibat dari konspirasi adalah issue tentang penyangkalan terhadap AIDS, yang meyakini bahwa penyakit AIDS bukan disebabkan oleh HIV. Ketika Afrika Selatan dipimpin oleh presidennya Thabo Mbeki yang mendukung ide penyangkalan ini, konsekuensinya  sungguh hebat(18). Mereka menolak pengobatan untuk AIDS sehingga akibatnya di tahun 2000 hingga 2005,  terjadi 330.000 kematian akibat AIDS, 117.000 kasus baru HIV  dan 35.000 bayi  juga diperkirakan terinveksi virus HIV. Data-data tersebut menunjukkan bahwa dalam halscience, akibat dari meyakini sebuah teori konspirasi  sungguh bisa membahayakan.

Namun, meski dampak yang ditimbulkan dari teori konspirasi telah diketahui, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat, akhirnya keputusan untuk mempercayai teori ini atau tidak, berpulang pada masing-masing individu. Keputusan yang dibuat tentu tak bisa  main-main, karena akibatnya berhubungan dengan nyawa orang lain.

 

ASI bisa menggantikan imunisasi

 

Salah satu saran dari para anti imunisasi adalah menawarkan ASI sebagai alternatif untuk menggantikan imunisasi. Apakah memang ASI bisa menggantikan imunisasi?

 

ASI memang mengandung antibodi untuk melawan kuman, terutama jenis IgA (Imunoglobulin A) (19). Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk (antigen) seperti bakteri, virus maupun toxin. Tubuh membuat imunoglobulin yang berbeda untuk melawan antigen yang berbeda pula. Misalnya antibodi untuk penyakit cacar air akan berbeda dengan jenis antibodi untuk penyakit pneumonia.

 

Sejak lahir bayi sudah membawa perlindungan terhadap beberapa penyakit dari  antibodi  ibunya (IgG) yang disalurkan lewat placenta selama dalam kandungan. Seperti disebutkan sebelumnya, bayi yang mendapat ASI juga akan mendapatkan tambahan antibodi (IgA) dari ASI. Tetapi perlindungan yang didapatkan si bayi tersebut (baik dari antibodi ibu maupun ASI) tidak bisa digunakan untuk melawan semua penyakit dan sifatnya pun hanya sementara. IgG ini akan menghilang menjelang si anak berusia setahun.

 

Sebagai contoh, antibodi dari ibu akan memberikan perlindungan sementara terhadap penyakit campak hingga antibodi ibu menghilang saat 9 bulan. Itulah mengapa vaksinasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan (15 bulan untuk MMR).  Namun  meski ampuh melawan penyakit campak, antibodi ibu tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit pertusis (batuk rejan). Sedangkan untuk ASI, antibodi dalam ASI  lebih efektif bekerja melawan kuman-kuman yang ada di pencernaan tapi kurang efektif untuk melawan penyakit infeksi pernafasan.

 

Jadi meskipun bayi sudah mendapat kekebalan dari si ibu dan juga dari ASI, tetap saja tidak bisa menggantikan imunisasi. Sebab, selain alasan yang sudah disebutkan diatas, imunisasi  juga bersifat spesifik untuk penyakit tertentu. Imunisasi bisa melindungi penyakit-penyakit spesifik yang tidak bisa (atau tidak cukup) dilakukan oleh antibodi ibu dan antibodi dari ASI.

 

Kehalalan vaksinasi

 

Dalam sebuah tanya jawab soal ‘Pandangan Islam  terhadap imunisasi pada anak untuk melawan penyakit’, Yusuf Qardawi, seorang ilmuwan Islam  mengatakan bahwa menggunakan vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah halal karena bertujuan untuk mencegah sesuatu yang membahayakan(19). Menjadi tugas seorang muslim untuk sebisa mungkin mencegah segala sesuatu yang membahayakan. Selain itu menurut beliau orangtua bertanggungjawab untuk sebisa mungkin melindungi anak-anaknya dan meningkatkan daya tahan tubuh mereka untuk melawan penyakit dan segala sesuatu yang berbahaya.

 

Dalam tanya jawab tersebut, Qardawi lalu secara spesifik menyoroti soal polio vaksin, dan menurut beliau, vaksin tersebut sudah digunakan sejak lama di seluruh dunia termasuk oleh lebih dari 50 negara muslim. Vaksin tersebut terbukti efektif untuk melawan penyakit polio, dan tidak ada ahli agama Islam terutama dari Universitas di Mesir yang keberatan untuk menggunakan vaksin ini.

 

Di Indonesia sendiri, Biofarma sebagai satu-satunya industri vaksin di Indonesia sudah memperoleh prakualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) setidaknya untuk vaksin dasar: polio, campak, hepatitis B, BCG, dan DTP (Difteri, Pertusis dan Tetanus) (20). Biofarma juga telah menjadi kiblat industri vaksin bagi 57 negara Islam dengan program vaksin halal dan berkualitas. Untuk menjamin vaksin produksinya termasuk kualifikasi halal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) diundang untuk menyaksikan proses pembuatan vaksin hingga akhirnya MUI mendukung vaksin-vaksin Biofarma dan membantu sosialiasi vaksin halal biofarma.

 

 

Bagaimana vaksin dibuat

 

Dalam kutipan salah satu artikel yang menolak imunisasi, tertulis kalimat-kalimat sebagai berikut:

 

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tau bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut.”

 

Benarkah demikian? Sebetulnya, pembuatan vaksin merupakan proses yang sangat komplex. Untuk membuat vaksin yang aman membutuhkan penelitian yang intensif dan fase-fase pengujian yang rumit. Pembuatan sebuah vaksin mulai dari penemuan penyebab penyakit hingga menjadi vaksin yang siap dipasarkan membutuhkan waktu sekira 50 tahun. Dengan kemajuan teknologi saat ini, waktu memang bisa dipersingkat, tapi tetap saja membutuhkan waktu yang lama(21).

 

Contoh proses pembuatannya seperi ilustrasi berikut(21). Jika para ahli telah setuju bahwa vaksin untuk mencegah penyakit X diperlukan, maka yang pertama dilakukan adalah menelaah dengan teliti tentang si bakteri atau virus X ini. Mereka akan mencari tahu makanan apa yang dibutuhkan oleh kuman X, bagaimana proses si kuman merusak jaringan paru misalnya. Lalu ahli genetica akan menganalisa gen si kuman X. Ahli imunologi akan meneliti bagaimana sistem kekebalan tubuh merespon si kuman X dan mengapa tubuh kadang gagal melawan si kuman. Mereka juga akan meneliti antigen kuman X yang bisa merangsang sistem kekebalan tubuh. Peneliti lain akan meneliti toxin yang dihasilkan oleh kuman X. Setelah para ahli ini mendapatkan informasi dasar tentang si kuman X, barulah mereka mulai mendesign vaksin yang mungkin bisa ampuh melawannya.

 

Cara pembuatan vaksin bermacam-macam, ada yang dengan melemahkan kumannya, ada yang dengan mematikan, hanya mengambil sebagian unit kuman yang memang bisa langsung merangsang sistem kekebalan tubuh (tidak seluruh kuman), mengambil toxin si kuman lalu mematikannya (toxoid vaccine), atau membuat link antigen (conjugate vaccine). Saat ini sedang dikembangkan juga DNA vaccine. DNA dari antigen si kuman X diambil, lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Nanti DNA kuman dalam sel tubuh manusia itu akan menyuruh si sel untuk memproduksi antigen. Jadi sel tubuh sendiri yang akan menjadi ‘pabrik pembuat vaccine’: memproduksi sendiri antigen yang diperlukan untuk merangsang timbulnya kekebalan tubuh.  

 

Sehubungan dengan kutipan anti imunisasi diatas, terlihat jelas bahwa sebetulnya vaksin bukan didapat dari darah sang penderita penyakit. Tetapi vaksin berasal dari kuman yang bisa jadi memang diambil dari penderita yang sakit. Namun bukan DNA dari darah orang yang sakit yang diambil, tapi DNA si kuman atau kumannya secara utuhlah yang diambil. Jadi pembuatan vaksin tidak berhubungan dengan DNA si penderita penyakit.

 

Untuk melemahkan atau mematikan kuman yang hendak dijadikan vaksin, memang membutuhkan tempat pembiakan, bisa dengan media tumbuhan, binatang, ataupun jaringan tubuh manusia(24). Namun setelah si kuman berkembang biak lalu melemah atau dimatikan, hasil perkembangbiakan virus atau bakteri ini akan dipisahkan dari media untuk mengembangbiakkannya. Jadi tempat pembiakan ini hanya merupakan media dan selanjutnya yang digunakan untuk menjadi vaksin hanyalah kumpulan kuman-kuman yang dilemahkan atau dimatikan tadi.

 

Setelah vaksin berhasil dibuat, proses sehingga bisa dipasarkan masih panjang. Pertama, vaksin ini harus lulus uji test keamanan terhadap binatang terlebih dulu. Bila aman, lalu bisa lanjut ke fase uji I, yang dilakukan hanya pada sekira 10-20 orang. Bila lulus dan aman, baru bisa maju ke fase uji II yang dilakukan pada orang lebih banyak dengan jumlah ratusan. Setelah itu, si vaksin harus melewati lagi uji fase II b dan III yang diujikan pada orang lebih banyak lagi. Setelah lulus uji III pun masih harus dipantau keamanannya jika mulai dipasarkan. Intinya, pembuatan sebuah vaksin membutuhkan proses panjang dan kompleks untuk kemudian bisa lolos dipasaran.

 

Penutup

 

Data-data dan ajakan untuk mengkaji ulang tentang penolakan anti imunisasi telah dibeberkan. Manfaat dan kerugian imunisasi juga bisa ditimbang. Kita tidak hidup di jaman dimana penyakit-penyakit infeksi yang bisa dicegah dengan vaksinasi seperti polio, diptheri, pertusis (batuk rejan), campak, rubella (campak jerman), dan gondongan masih begitu merebak. Akibatnya apresiasi terhadap keberadaan vaksin untuk mencegah penyakit tersebut menjadi berkurang. Di abad ke 19 dan awal abad 20 dulu, ratusan ribu orang di Amerika Serikat terserang penyakit ini setiap tahunnya, puluhan ribu orang pun meninggal terutama anak-anak. Di jaman itu, mendengar nama-nama penyakitnya saja sudah membuat orang-orang ketakutan(21). Coba bayangkan jika vaksin tidak ditemukan lalu hingga saat ini jumlah anak yang menderita penyakit tersebut masih begitu besar, anak-anak kita terus-terusan terkena penyakit menular dan terancam meninggal, apa kita tak kelimpungan?

 

Tapi sekali lagi, akhir sebuah keputusan tentu saja berpulang pada masing-masing orang. Benar, bahwa setiap manusia punya hak atas sebuah pilihan, yang harus dihargai dan tentu tidak bisa diabaikan. Namun tolong, sebelum memutuskan, pikirkan dengan matang, cek dan ricek informasi yang datang. Gunakan hati, pikiran dan akal untuk mencari yang benar, bukan  sekedar ikut-ikutan atau karena pengaruh peer pressured, tekanan dari kawan dan handai taulan. Tolong digarisbawahi benar bahwa keputusan yang diambil kemudian, bukan hanya berpengaruh pada anak kita seorang, tapi juga beresiko menolong atau membahayakan anak-anak di sekitar. Ingat, keputusan kita bisa mematikan. Tegakah hati melihat anak-anak jiwanya terancam hanya karena kita gegabah dalam mengambil keputusan? (Agnes Tri Harjaningrum)

 

[ Download versi: e-book PDF, 23 halaman ]

 

Daftar Pustaka

 

  1. Mercer J, PhD. Lady Mary Wortley Montagu: A contributor to public health, about a fascinating figure in the history of vaccination. [Online].;2009 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.psychologytoday.com/blog/child-myths/200909/lady-mary-wortley-montagu-contributor-public-health
  2. ScienceDaily. How poxviruses such as samllpox evade the immune system. [Online].;2008 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.sciencedaily.com/releases/2008/01/080131122956.htm
  3. CDC. Smallpox Disease Overview. [Online].;2007 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.bt.cdc.gov/agent/smallpox/overview/disease-facts.asp
  4. WHO. Smallpox. [Online].;2001 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:  http://www.who.int/mediacentre/factsheets/smallpox/en/
  5. The history of vaccines.Timeline. [Online].;2001 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari:  http://www.historyofvaccines.org/content/timelines/all
  6. Rosenhek J. Safe smallpox innoculation. [Online].;2005 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.doctorsreview.com/history/feb05-history/
  7. Poland GA, Jacobson RM. Understanding those who do not understand: a brief review of the anti-vaccine movement. Vaccine.[Online].;2010 [dikutip 15 October 2001]. Diakses dari: http://www.morrisonlucas.com/GL/vaccines/Vaccine_19_2440_anti_vaccine_movement.pdf
  8. Friedlander E. The Anti-Immunization Activists: A Pattern of Deception. [Online].;2010 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.pathguy.com/antiimmu.htm
  9. The College of Phycisian of Philadelphia. History anti vaccination movements. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.historyofvaccines.org/content/articles/history-anti-vaccination-movements

10.  CDC. Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) [Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Activities/vaers.html

11.  Los Angeles Time. Public Health: Not vaccinated, not acceptable? [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://articles.latimes.com/2011/jul/18/opinion/la-oe-ropeik-vaccines-20110718

12.  Antaranews. Biofarma jawab pro kontra imunisasi. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.antaranews.com/berita/278863/bio-farma-jawab-pro-kontra-imunisasi

13.  Lindsay A.The hazards of low vaccination rates. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.sonic.net/~medsoc/images/bulletins/AUGUST%202011%20EXCERPTS.pdf

14.  Fikri A. Selama 2011, penderita campak di Jawa Barat tembus 950 orang.  [Online].;2011 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari: http://www.tempointeraktif.com/hg/bandung/2011/10/18/brk,20111018-361978,id.html

15.  Pigden C. Conspiracy theory and conventional wisdom. [Online].;2007 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:  http://www.niu.edu/~gpynn/Pidgen_ConspiracyTheories&TheConventionalWisdom.pdf

16.  Goertzel T. Conspiracy theories in science. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:  http://www.nature.com/embor/journal/v11/n7/full/embor201084.html

17.  McIntyre  P dan Leask J. Improving uptake of MMR vaccine. [Online].;2008 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:  http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2287215/?tool=pmcentrez

18.  Chigwedere P, Seage GR, Gruskin S, Lee TH, Essex M (October 2008). "Estimating the Lost Benefits of Antiretroviral Drug Use in South Africa". Journal of acquired immune deficiency syndromes (1999) 49 (4): 410–415

19.  Immunization Advisory Centre University of Auckland. The infant immune system and immunization. [Online].;2006 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.immune.org.nz/site_resources/Professionals/Vaccinology/The_infant_immune_system_and_immunisation.pdf

20.  Majelis Ulama Indonesia. Biofarma ‘kiblat’ vaksin halal dunia. [Online].;2011 [dikutip 15 October 2011]. Diakses dari: http://www.mui.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=545%3Abio-farma-qkiblatq-vaksin-halal-dunia&catid=1%3Aberita-singkat&Itemid=50

21.  National Institute of Allergy and Infectious. Understanding vaccines, what they are how they work.  [Online].;2008 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.niaid.nih.gov/topics/vaccines/documents/undvacc.pdf

22.  Pramudiarja A, U. Satu saja anak tak diimunisasi efeknya bisa memicu wabah.   [Online].;2011 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://us.health.detik.com/read/2011/10/18/115311/1746520/764/satu-saja-anak-tak-diimunisasi-efeknya-bisa-memicu-wabah

23.  Triggle N. MMR doctor  struck from register. [Online].;2010 [dikutip 16 October 2011]. Diakses dari:http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/8695267.stm

24.  Ellis R,W. New vaccines technology. [Online].;2001 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari:http://61.183.207.199/suite/resource/download.do?key=1754864

25.  Goldrace B. And now, nerd news. [Online].;2009 [dikutip 20 October 2011]. Diakses dari: http://www.badscience.net/2009/10/and-now-nerd-news/#more-1369


Selasa, 18 Oktober 2011

Sidik Jari

Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya adalah tentang tes Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak.

Saya, yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya tentang keberadaan tes tersebut dan tidak mau ambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya. Tetapi, beberapa hari yang lalu anak saya, yang kebetulan juga psikolog, bercerita kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) untuk bergabung dengan usaha dia dalam usaha tes Sidik Jari. “Lumayan,” kata temannya itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil dan sekolah-sekolah. Biayanya Rp500.000 per anak.

Sebagai psikolog profesional, anak saya meragukan validitas dan reliabilitas (keabsahan dan kesahihan) tes itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko. Karena itu, ia minta pendapat saya. Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal psikologi (hampir seluruh dunia yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) di mana saya menjadi salah satu anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekira 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print” Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait sidik jari dalam hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak.

Hasilnya: NIHIL! Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit, Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh Avila, Matthew T; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E; Blaxton, Teresa A; Thaker, Gunvant K dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29 (3), 2003, halaman 595- 605. Jadi tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa schizofrenia (dipercaya sebagai penyakit turunan) dengan pola sidik jari (juga merupakan bawaan).

Sebaliknya, dari Google, saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”, bahkan ada website-nya. Hampir semua bercerita tentang keilmiahan metode analisis kepribadian dengan tes Sidik Jari ini. Bahkan ada iklan promo yang menawarkan tes Sidik Jari “hanya” Rp375.000 per anak. Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba tes yang katanya pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah bahwa “Analisis sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”. Luar biasa kalau tes itu benar.

Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai petunjuk hasil tes Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti kepada orang tua, beriman, bertakwa, dan saleh. Lebih senang lagi anggota Densus 88. Mereka tidak perlu berpayah-payah lagi. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri, menangkapnya, dan memasukkannya ke penjara.

Tetapi, faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah berawal sejak zaman Socrates, 400 tahun sebelum masehi, dan melalui perjalanan sejarah yang panjang sekali, serta mendapat masukan dari berbagai ilmu, termasuk ilmu faal dan kedokteran, serta matematika. Wilhelm Wundt baru menyatakan, psikologi sebagai ilmu yang mandiri pada 1879 di Leipzig, Jerman (versi Amerika oleh William James di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard). Pascakelahirannya, psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk tes IQ, minat, sikap, bakat, emosi, dan seterusnya.

Kemajuannya sangat langkah-demi-langkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah, langkah pertama saya adalah mengecek jurnal ilmiah psikologi untuk memastikan apakah tes Sidik Jari ini termasuk metode yang diakui dalam psikologi atau tidak. Sementara itu, teknik analisis sidik jari juga sudah berkembang sejak 1800-an. Pada 1880 Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk mengidentifikasi seseorang.

Pada 1901 teknik yang disebut daktiloskopi ini digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi, semuanya untuk menentukan identitas fisik seseorang. Misalnya, apakah benar sidik jari yang ditinggalkan pelaku di TKP (tempat kejadian perkara) perampokan adalah milik si Fulan. Sebelum ditemukan sistem DNA, daktiloskopi-lah yang menjadi andalan polisi. Namun, di kemudian hari, teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifikasi fisik tampaknya berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga.

Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari setiap orang. Maka ia menerbitkan buku Finger Prints (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian. Pasca-Galton tampaknya dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku, dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya diluar komunitas ilmu psikologi.

Dengan demikian, dermatoglyphs sebenarnya pseudo science (ilmu semu) dari psikologi. Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah astrologi (banyak di majalah- majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di koran SINDO), palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya), numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka tanggal lahir dsb), tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu), dan masih banyak lagi.

Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing-masing, dan memang tampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar gara-gara bintangnya tidak cocok). Tetapi, ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi misalnya tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak dan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati,loh!).

Dalam hal ilmu sidik jari sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hubungannya antara sidik jari (bawaan) dan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karier, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variabel seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun termasuk sedikit faktor bawaan. Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh faktor bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan psikologi.

Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu, untuk memeriksa itu diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan duit yang lumayan banyak. Karenaitu, saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk tes Sidik Jari.

SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi UI

http://news.okezone.com/read/2011/05/15/58/457267/sidik-jari

Senin, 17 Oktober 2011

Sidik jari dan Bakat Anak

http://www.faktailmiah.com/2011/04/26/sidik-jari-dan-bakat-anak.html

Karena di masyarakat semakin gencar dikampanyekan adanya hubungan sidik jari dan bakat anak, maka fakil merasa bertanggung jawab untuk mengupas sedalam-dalamnya klaim-klaim yang diberikan jasa ini dari sisi kritis dan melihat kemungkinan adanya dukungan ilmiah terhadap klaim tersebut. Karena klaimnya sangat banyak, kami memilih untuk mengurutkannya saja, ketimbang membahasnya sekaligus.


 

Kadang sains menemukan sesuatu yang aneh, lebih aneh dari yang dibayangkan pseudosains. Sidik jari telah lama dipandang memiliki fakta ilmiah yang kokoh. Fakta-fakta ilmiah kokoh mengenai sidik jari antara lain:

  1. Sidik jari tiap manusia beda
  2. Sidik jari ada pada semua primate dan beberapa mamalia
  3. Sidik jari berevolusi untuk membantu genggaman primata
  4. Sidik jari memiliki hubungan dengan penyakit mental tertentu atau kecerdasan yang sangat tinggi

Satu hal yang mengejutkan adalah munculnya “fakta” baru di masyarakat kalau sidik jari berhubungan dengan bakat anak. Akibatnya sejumlah lembaga dan perusahaan mengkampanyekan jasa pemeriksaan sidik jari anak untuk melihat potensi sang anak di masa depan. Tapi, yang semacam ini sangat dekat dengan pseudosains seperti ramalan tapak tangan. Mari kita cek klaimnya satu demi satu:

Berbasis pada Kecerdasan Ganda Howard Gardner

Kami sudah membahas sebelumnya kalau kecerdasan ganda tidak ilmiah. Ia tidak punya bukti efektivitas, tidak punya bukti neurologis, tidak punya alat ukur, ambigu dalam definisi, sebenarnya adalah bakat ganda dan tautologis. Jasa Sidik Jari memang benar merujuk kalau kecerdasan ganda sebenarnya bakat ganda, tapi gagal menyadari kalau kelemahan lainnya.

100 pemikir paling berpengaruh dari mana?

Tiap jari berhubungan dengan tiap lobus di Otak

Menurut klaim jasa sidik jari:

Jari kelingking = Occipital lobe

Jari manis = Temporal lobe

Jari tengah = Parietal lobe

Jari telunjuk = Inferior frontal lobe

Ibu jari = Superior Frontal lobe

Tiap jari berasosiasi katanya dengan tiap lobus otak

Sekarang kita bandingkan dengan fungsi tiap lobus otak ini

Occipital lobe = berasosiasi dengan proses visual

Temporal lobe = berasosiasi dengan persepsi dan pengenalan stimuli auditori, memori dan ucapan

Parietal lobe = berasosiasi dengan gerakan, orientasi, persepsi stimuli

Inferior frontal lobe = berasosasi dengan konsep persepsi dan penalaran

Superior frontal lobe = berasosiasi dengan penalaran, perencanaan, bagian dari ucapan

Bagian-bagian otak

Sekarang bagaimana hubungannya? Menurut jasa sidik jari:

Jari kelingking kiri = bakat visual

Jari kelingking kanan = bakat pengamatan

Jari manis kiri = bakat akustik

Jari manis kanan = bakat bahasa

Jari tengah kiri = bakat imajinatif

Jari tengah kanan = bakat operasi

Jari telunjuk kiri = bakat artistik

Jari telunjuk kanan = bakat analisa logika

Ibu jari kiri = bakat kreatif

Ibu jari kanan = bakat perencanaan

 

Interface sebelum Menapakkan tangan

Perhatikan bagaimana peran tiap lobus otak dengan menghubungkannya ke jari di tangan sehingga bisa dikatakan kalau kemampuan otak dapat dideteksi dari tiap jari.  Jadi kunci dari klaim ini adalah adanya asosiasi antara jari dan lobus otak. Apa buktinya? Lalu apa hubungannya dengan bakat ganda Gardner? Kita tinggalkan dulu pertanyaan ini. Sekarang perbedaan individu:

Dikatakan ada lima tipe sidik jari di tiap jari manusia dan menurut jasa sidik jari bakat, tiap tipe ini berasosiasi dengan tipe belajar:

Pusaran (whorl) = pembelajar kognitif

Loop ulnar = pembelajar afektif

Loop radial = pembelajar berpikir kritis

Tented arch = pembelajar antusiastik

Arch = pembelajar reflektif

Kemudian juga dihitung sudut AtD telapak tangan dengan kategori:

Sudut AtD < 40 derajat = pembelajar efektif

Sudut AtD antara 40 dan 44 derajat = pembelajar normal

Sudut AtD > 44 derajat = pembelajar afektif

Mari kita coba pakai pengetahuan yang kita ketahui mengenai jari dan otak:

 

Keberatan Secara neurologi

Jari adalah anggota gerak tubuh sekaligus alat peraba, ia terhubung dengan korteks motorik yang terdapat di frontal lobe dan korteks somatosensorik yang terletak di parietal lobe. Korteks motorik mengendalikan gerakan jari sementara korteks somatosensorik mengendalikan penginderaan sentuh jari.

Berdasarkan fakta ini, otomatis setiap jari dikendalikan oleh frontal lobe dan parietal lobe, tetapi jasa sidik jari mengatakan hanya jari tengah yang berasosiasi dengan parietal lobe. Jadi ini berarti hanya jari tengah yang dapat merasakan panas kalau kita menyentuh sesuatu yang bersuhu tinggi. Anda tidak akan merasa panas jika menyentuh bara dengan telunjuk, karena asosiasinya bukan ke parietal lobe. Absurd?

Begitu juga frontal lobe, dalam klaim jasa sidik jari, ia hanya berasosiasi dengan ibu jari dan jari telunjuk. Kalau benar berarti hanya ibu jari dan jari telunjuk yang bisa bergerak. Jari yang lain tidak bisa bergerak. Absurd?

 

Anda mungkin berpendapat kalau hal ini tidak sekaku demikian. Memang ada porsi frontal lobe di semua jari dan juga porsi parietal lobe di semua jari. Tapi itu juga berarti porsi dari lobe lainnya ada di semua jari, lalu kenapa tiap jari punya kelebihan. Jika jari telunjuk dan jari tengah punya kelebihan porsi frontal, bukankah ini berarti kalau kedua jari ini lebih lincah dari jari lainnya? Kalau jari tengah punya kelebihan porsi parietal, bukankah ini berarti jari ini lebih peka pada deteksi lainnya?

Keberatan secara evolusi

Seleksi alam bekerja efisien, ketimbang mengendalikan tiap jari dengan satu lobus otak masing-masing, seleksi alam akan memilih mengendalikannya cukup dengan satu dua lobus. Memakai semua lobus tidak efisien secara energi karena berarti energi diberikan pada semua lobus. Apa manfaat evolusioner dari menyalurkan temporal dan occipital ke jari?

Kekaburan makna

Apa makna dari afektif, efektif, kognitif, antusiastik, kritis, dsb. Semua istilah yang dibuat manusia untuk mempermudah pengkajian. Bila anda buka buku teori pendidikan, para ahli berdebat mengenai definisi pasti dari tiap istilah ini. Lalu jasa sidik jari datang mengatakan kalau istilah-istilah tersebut sesuatu yang pasti. Atas dasar apa? Atas dasar sidik jari? Itu artinya logika sirkuler. Anda ingin menunjukkan sidik jari menentukan bakat atau menunjukkan kalau bakat menentukan sidik jari?

 

Pencet

Kegilaan marketing

Cek disini : http://www.mind-tech.in/dermatoglyphic_multiple.html

12 ribu lebih siswa bunuh diri di India tiap tahun karena stress ujian sekolah

Penyebab utamanya karena tekanan teman dan orang tua

DMIT (Jasa sidik jari) dapat menawarkan masukan penting bagi konseling dan panduan siswa

Oke, ini masalah etis, tapi kenapa harus menjanjikan sebegitu besarnya efektivitas bila tidak punya kekokohan ilmiah sama sekali?

Contoh lain : DMIT GeneCode video dari Malaysia pada 3:37

“Jenius itu 99% usaha dan 1% bakat”

Ini bukan fakta ilmiah. Jenius itu jauh lebih besar disebabkan bakat. Dan ini bukan semata sesuatu yang pasti bisa dihitung persentasenya semata. Dunia tidak sesederhana yang dikatakan motivator (fakil anti motivator)

Hubungan sidik jari dan kecerdasan

Ini adalah daftar pranala penelitian yang menunjukkan hubungan sidik jari dan kecerdasan

M. Vashist, R. Yadav, N. & A. kumar : Axial triradius as a preliminary diagnostic tool in patients of mental retardation. The Internet Journal of Biological Anthropology. 2010 Volume 4 Number 1http://www.ispub.com/journal/the_internet_journal_of_biological_anthropology/volume_4_number_1_61/article/axial-triradius-as-a-preliminary-diagnostic-tool-in-patients-of-mental-retardation.html

Kesimpulan penelitiannya kalau orang dengan keterbelakangan mental dapat dilihat dari sudut aksial radiusnya. Ini juga menggunakan indikator IQ.

 

Keterbelakangan mental dan sangat cerdas itu tidak normal

Najafi, M. Association between Finger Patterns of Digit II and Intelligence Quotient Level in Adolescents  -Iranian Journal of Pediatrics, Volume 19 (Number 3), September 2009, Pages: 277­284 http://www.sid.ir/en/VEWSSID/J_pdf/92320090310.pdf

Penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan pola tertentu sidik jari telunjuk dengan kecerdasan saat dewasa. Dengan kata lain, konsep IQ tetap cukup, tidak perlu bakat ganda, dan itupun hanya jari telunjuk, bukan jari lainnya. Tidak semua pola memiliki hubungan dan peneliti juga ragu dengan hasil penelitiannya sendiri.
Cesarik, M., et al, Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Person With Superior Intelligence, Coll. Antropol, 1996, 20(2):413-418 –http://www.collantropol.hr/_doc/Coll.%20Antropol.%2020%20(1996)%202:%20413-418.pdf

Penelitian ini menunjukkan kalau orang yang sangat cerdas dapat dikenali dari sidik jarinya. Kembali ia hanya memakai IQ saja sebagai indikator.

Penelitian dari China:
2002 – http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-JPXZ200201023.htm
1996 – http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-CDYX602.006.htm
1995 – http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-RLXB501.005.htm
1989 – http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-HNYK198901009.htm

Perhatikan kalau semua sumber hanya mampu menunjukkan asosiasi dengan IQ. Bila anda menghubungkannya dengan sidik jari anak yang katanya memiliki bakat kecerdasan ganda, apa landasannya?

 

Kritikus Independen

Cek blog ini : http://www.sillybeliefs.com/blog016.html#blog016-7

Mereka melakukan tinjauan kritis sejenis. Kesimpulannya :

Tidak ada bukti ilmiah kalau ia bekerja

Berbohong dalam promosinya

Membuat klaim menyesatkan

Memberi bukti kesaksian, bukan bukti ilmiah

Bicara dalam istilah pseudosains

Tidak diterima di barat yang masyarakat umumnya rasional

Fakta tentang sudut AtD

Kembali kita ambil klaim dari jasa sidik jari :

Sudut AtD < 40 derajat = pembelajar efektif

Sudut AtD antara 40 dan 44 derajat = pembelajar normal

Sudut AtD > 44 derajat = pembelajar afektif

 

Di India juga ada

Dan ini yang diungkapkan sains:

Sudut AtD < 30 derajat = sering ditemukan pada penderita keterbelakangan mental (IQ<70)

Sudut AtD antara 30 dan 40 = sering ditemukan pada orang cerdas (IQ > 120)

Sudut AtD antara 40 dan 55 = normal

Sudut AtD > 55 derajat = sering ditemukan pada penderita keterbelakangan mental (IQ <70)

Sudut AtD > 60 derajat = penderita sindrom Down (trisomi 21 dan gangguan trisomi lainnya)

 

Telapak tangan manusia normal dengan sudut AtD nya

Sumber :

- [2010] Axial triradius as a preliminary diagnostic tool in patients of mental retardation
- [1996] Quantitative dermatoglyphic analysis in persons with superior intelligence

Perhatikan bagaimana jasa sidik jari berbeda penafsiran dengan hasil penelitian ilmiah. Jasa sidik jari bakat tidak memasukkan data tentang anak keterbelakangan mental atau sindrom Down, posisi normal berbeda, dan sains tidak mengenal istilah afektif efektif.

Dr. Rita Levi-Montalcini dan Dr. Stanley Cohen

Situs ini mengatakan penemunya adalah Levi-Montalcini dan Cohen.

Cek disini : Potential Intelligence Fingerprint

Berikut klaimnya :

Later on, Dr. Rita Levi-Montalcini and Dr. Stanley Cohen found a correlation between NGF (Nerve Growth Factor) and EGF (Epidermal Growth Factor). The correlation can be explained as follows.

1. The fingerprint on the thumb correlated with prefrontal brain sections. 2. The fingerprint on the index correlated with frontal brain sections. 3. The fingerprint on the middle finger of the brain correlated with the parietal. 4. The fingerprint on the ring finger of the brain associated with temporal. 5. The fingerprint on the little finger associated with the occipital brain.

Ini omong kosong besar. Coba anda cek di Wikipedia apa itu :

Nerve Growth Factor : http://en.wikipedia.org/wiki/Nerve_growth_factor

Dan

Epidermal Growth Factor : http://en.wikipedia.org/wiki/Epidermal_growth_factor

NGF adalah protein kecil yang penting untuk pertumbuhan, perawatan dan kesintasan sel syaraf targetnya. Ia berfungsi sebagai molekul pensinyal. Dengan kata lain, ia adalah dokternya sel syaraf manusia.

EGF juga sama. Ia adalah protein kecil yang penting untuk pertumbuhan, perawatan dan kesintasan sel kulit targetnya.

 

Periksa tangan sekarang

Dengan kata lain mengatakan NGF berkorelasi dengan EGF sama saja mengatakan syaraf berkorelasi dengan kulit. Bahkan sebelum NGF dan EGF ditemukanpun orang sudah tahu. Apa hubungannya dengan klaim kalau jari berhubungan dengan masing-masing lobus otak coba?

Tidak pernah pula ada hubungannya NGF dan EGF dengan sidik jari dan bakat. Intinya, NGF dan EGF hanyalah pencaplokan istilah sains semata agar telihat, ya ilmiah.

Profesor Roger Lin

Cek klaimnya disini : Profesor Roger Lin

Profesor Roger Lin

Apa yang aneh adalah :

“Skala itu disusun berdasarkan NLP Training Act Amerika Serikat,..”

Kami telah tunjukkan kalau Neurolinguistic Programming (NLP) tidak ilmiah, tidak ada bukti dan tidak memiliki efektivitas. Jika skala potensi sidik jari dan bakat anak disusun berdasarkan NLP, maka dia dua kali lipat absurditasnya.

Pencarian nama Roger Lin dalam database sciencedaily dari tahun 2005 yang memuat 101.589 laporan penelitian ilmiah tidak menunjukkan hasil padahal ada 398 laporan. Satu-satunya data objektif yang bisa diyakini dari biografi Roger Lin di atas adalah penemuan sensor telapak tangannya saja, bukan efektivitas dari bakat anak dan sidik jari.

Sidik jari berkembang dalam kandungan?

Salah besar. Coba lihat jari bayi yang baru lahir dan periksa ada tidaknya sidik jari disitu. Faktanya sidik jari terbentuk mulai pada usia 10 minggu dan selesai pada usia 24 minggu. Faktor yang menyebabkan sidik jari adalah faktor kebetulan, lingkungan dan warisan (Jeremy Haack, 2008). Fakta ini sudah lama diketahui di dunia kepolisian untuk pelatihan pengenalan sidik jari di TKP.

 

Laporan

Penelitian Basset et al

Penelitian ini baru selesai tanggal 19 Oktober 2010. Masih sangat baru tapi relevan dengan kasus hubungan jari dan bakat kita. 18 orang partisipan, semua dominan tangan kanan, mengikuti pemeriksaan fMRI (Scan Otak) saat ditugaskan menekan tuts-tuts piano dengan jari kiri (ibu jari tidak diperbolehkan). Setiap partisipan memiliki sedikitnya 4 tahun pengalaman dengan alat musik, pandangan normal dan tidak punya sejarah penyakit syaraf atau gangguan psikologis. Pengukuran dilakukan dalam tiga sesi latihan dalam periode 5 hari.

Nah berdasarkan asumsi jasa sidik jari kita, karena para partisipan adalah orang-orang berbakat musik maka kita akan menduga kalau bagian paling aktif adalah temporal lobe, karena katanya bakat akustik berada di jari manis dan jari manis berkaitan dengan temporal lobe. Mari kita lihat hasil scan:

Bandingkan dengan lokasi lobus otak :

Ada 112 titik di korteks yang aktif saat itu. Temporal lobe terletak di daerah sekitar telinga kita ke belakang. Tapi begitu anda lihat dalam functional parcellation, apakah temporal lobe sangat aktif? Tidak. Ia bahkan tidak hadir dalam kondisi awal. Perlu diketahui kalau potret otak di atas berdasarkan skala waktu, bukan irisan otak. Jadi pada awal tugas bermain piano (kiri atas) yang aktif adalah frontal lobe, dan seterusnya hingga kotak kanan bawah. Lihat, bahkan tugas yang sudah jelas menunjukkan bakat musik melibatkan interaksi dinamis berbagai bagian otak. Tidak sesederhana yang dikatakan jasa sidik jari.

 

Zhai Guijun

Penelitian berikut sangat menarik : Zhai Guijun. Report on Study of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification. Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute, 2006: http://www.zdzw.com/html/yulw.htm

Ia merupakan satu-satunya penelitian yang mendukung sidik jari cerdas lewat kecerdasan ganda. Walau begitu perlu diperhatikan kalau:

  1. Penelitian tidak diterbitkan di jurnal peer review, tapi secara online
  2. Tidak ada referensi yang dikutip
  3. Belum ada satupun penelitian yang mendukungnya

 

Dan seandainya anda mencoba mengatakan penelitian ini mendukung sidik jari dan bakat, silakan pelajari hasil penelitian tersebut. Anda akan melihat:

  1. Ia tidak mengatakan sama sekali hubungan antara tiap lobus otak dengan jari
  2. Pengarangnya bukan Roger Lin
  3. Dia tidak menyebutkan sama sekali NGF dan EGF
  4. Definisi kecerdasan yang digunakan ditentukan sendiri

 

Kesimpulan

Hubungan sidik jari dan bakat masih sangat controversial. Hanya ada satu penelitian ilmiah yang mendukung dari sekian banyak yang ada. Sebagian besar kampanye hubungan sidik jari dan bakat hanyalah pseudosains. Memakai istilah sains seolah apa yang ia klaim didukung fakta ilmiah. Hal ini selalu terjadi pada masyarakat kita yang awam dan tidak berpikir kritis. Pendidikan tidak sesederhana kecerdasan ganda, NLP, peta pikiran, sidik jari, otak kiri otak kanan, ESQ, mitos 10% otak, kata-kata ahli motivasi, mitos perkembangan otak, reiki, aktivasi otak tengah, dsb. Pendidikan melibatkan seluruh otak, tiap orang khas, dipengaruhi sekian banyak faktor yang membuat para ilmuan dan pendidik pusing ratusan tahun lamanya. Menyederhanakannya semata lari dari masalah untuk harapan semu. Dari pada anda menggunakan 500 ribu rupiah uang anda untuk terapi, lebih baik anda gunakan untuk menghabiskan waktu bersama anak anda, menyanyi, ngobrol, membaca, bermain bersama, membelikannya sayur dan buah dan menghindarkannya dari pengaruh buruk televisi. Cara sederhana tapi selalu terbukti untuk perkembangan kecerdasan dan bakat anak.

 

 

Referensi ilmiah

Basset, D.S., Wymbs, N.F., Porter, M.A., Mucha, P.J., Carlson, J.M., Grafton, S.T. “Dynamic Reconfiguration of Human Brain Networks during Learning.” 19 Oct 2010.

Cesarik, M., et al, Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Person With Superior Intelligence, Coll. Antropol, 1996, 20(2):413-418

Fiore M, Chaldakov GN, Aloe L (2009). “Nerve growth factor as a signaling molecule for nerve cells and also for the neuroendocrine-immune systems”. Rev Neurosci 20 (2): 133–45

Liu Shusen;et al Correlation Analysis Between Fingerprint Pattern And Intelligence. ;Journal Of Chengde Medical College;1995-01

LUO Tong Xiu, XU Ming Zong, LI Shi Wang, ZHOU Xiang, OUYANG Chi, ZHOU Xin Lian . Research on dermal ridge in students with high intelligence. HEREDITAS(BEIJING);1999-03

M. Vashist, R. Yadav, N. & A. kumar : Axial triradius as a preliminary diagnostic tool in patients of mental retardation. The Internet Journal of Biological Anthropology. 2010 Volume 4 Number 1
Najafi, M. Association between Finger Patterns of Digit II and Intelligence Quotient Level in Adolescents  -Iranian Journal of Pediatrics, Volume 19 (Number 3), September 2009, Pages: 277­284

Purves D, Augustine G, Fitzpatrick D, Hall W, LaMantia A, McNamara J, White L (2004). Neuroscience. Sunderland, Mass: Sinauer. pp. 72–173, 600–606.

Quan Yuelong;Liu Zhonghua; Xu Pingfang;Ding Feng. A Dermatoglyphics Study Of Supernormal Children. ?Acta Anthropologica Sinica? 1995-01

Zhai Guijun. Report on Study of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification. Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute, 2006.

Referensi populer

Jeremy Haack, 2008. Fingerprints.

Martijn van Mensvoort. 2010. Thumbrule DMIT – IQ TEST: Does intelligence correlate with fingerprints & dermatoglyphics?

http://www.brain-childlearning.com/partner.html

http://www.brain-child.co.cc/2010/10/profesor-roger-lin.html

http://www.mme.com.tw/page11.php

http://www.handresearch.com/diagnostics/simian-line-down-syndrome-case-2.htm

http://www.empowermind.in

http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/18/behind-science-fingerprints.html