wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)


Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2009

Kopi Bahaya untuk Penderita Kejang Demam

sumber :
http://www.surya.co.id/2009/04/04/kopi-bahaya-untuk-penderita-kejang-demam.html

Penyakit kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat suhu tubuh meningkat. Kejang ini pada umumnya timbul dalam 16 jam saat panas. Lamanya kejang kurang dari 15 menit. Setelah kejang penderita sadar, kadang mengantuk.

Kejang demam ini pada umumnya timbul pada umur enam bulan sampai enam tahun dengan puncaknya pada umur 14 bulan - 18 bulan. Menurut catatan didapatkan faktor keturunan dari keluarga yang menderita sakit kejang demam.

Cara mencegahnya, sebaiknya membawa penderitanya ke dokter spesialis anak setempat untuk meminta resep obat penurun panas dan obat antikejang sebagai persediaan di rumah.

Untuk pertolongan pertama bagi penderita panas:

  • Beri obat penurun panas dan antikejang segera.
  • Bila suhu tubuh meningkat, beri obat antikejang yang diberikan melalui anus (dubur). Perlu diketahui sekarang ada obat penurun panas dan antikejang yang diberikan lewat anus yang kerjanya cepat.
  • Kompres badannya dengan air.
  • Buatlah suhu ruangan yang sejuk, dapat menggunakan AC.
  • Jika anak tambah menggigil, ujung tangan dan kakinya dingin, beri sarung tangan dan kaus kaki.
  • Tak dianjurkan menyelimuti badan anak dengan selimut yang tebal karena panas badannya malah akan meningkat.
  • Tak dianjurkan mengoleskan minyak apapun pada badan anak karena malah minyak akan menutup pori-pori kulit yang mengakibatkan panas badan tidak bisa keluar.
  • Dianjurkan minum air karena kebutuhan air akan meningkat pada suhu badan yang meningkat. Dengan banyak minum, panas akan keluar bersama air keringat, kencing dan pernapasan.

Tak dianjurkan memberi minum kopi karena kopi akan menyebabkan detak jantung berdebar-debar dan anak tidak bisa tidur. Padahal pada anak yang badannya panas detak jantungnya sudah meningkat. Kopi tidak mencegah timbulnya kejang.

Segera bawa ke dokter untuk mendapat pertolongan lebih lanjut. Penyebab kejang demam pada anak umumnya infeksi saluran napas dan tenggorokan, disebabkan bakteri dan virus serta infeksi telinga.

Anak yang sakit kejang demam jarang menjadi epilepsi. Penyakit kejang demam akan menghilang pada usia enam tahun. Faktor risiko kejang menjadi sakit epilepsi antara lain bila timbulnya kejang pertama sebelum umur enam bulan; kejang yang lamanya lebih dari 15 menit; kelainan pertumbuhan dan syaraf pada penderita; adanya anggota keluarga yang menderita epilepsi. Perlu dicegah jangan sampai kejang berulang karena dapat menimbulkan kelainan motorik, gangguan mental, dan berfikir. Dr Agus Harianto SpA(K) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur.


Kamis, 22 Oktober 2009

Demam tanpa Penyebab yang Jelas (Fever of Unknown Origin/FUO)

sumber :

http://www.sehatgroup.web.id/?p=142&print=1

Demam adalah salah satu gejala paling umum yang menyebabkan anak dibawa ke dokter (19%-30% alasan kunjungan).1 Definisi demam di sini adalah suhu rektal ≥ 380C pada bayi (anak ≤ 1 tahun).2,3 Sedang pada anak ≥ 1 tahun definisinya adalah suhu rektal ≥ 38,40C atau oral (mulut) ≥ 37,80C.3

5%-20% anak yang mengalami demam tidak memiliki sumber infeksi yang jelas, bahkan setelah riwayat penyakit diteliti dan pemeriksaan fisik dilakukan.1,4 Dari 20% ini, sebagian besar terkait dengan infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya.1,3,4 Sebab penting lainnya pada usia di bawah 2 tahun adalah ISK (3%-4% pada anak laki-laki dan 8%-9% pada anak perempuan).

Namun pada sebagian kecil anak, demam tanpa penyebab yang jelas (fever of unknown origin/FUO) mungkin didasari adanya bakteri dalam peredaran darahnya yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat menyebabkan infeksi bakteri yang berat seperti pneumonia (infeksi pada paru-paru), osteomyelitis (infeksi pada tulang) dan meningitis (infeksi pada selaput otak).2,3,4 Karena itu penanganan FUO sangat penting untuk diketahui, terutama untuk anak di bawah 3 tahun di mana hal ini cukup sering ditemui.

Riwayat Penyakit dan Pemeriksaan Fisik

Yang paling penting dilakukan dalam menangani FUO adalah mengenali apakah anak tampak baik-baik saja, sakit, atau toksik.5 Yang dimaksud dengan toksik adalah kondisi pucat atau kebiruan, dengan napas dan denyut nadi yang cepat, sulit ditenangkan, dan letargi (keadaan di mana anak tidak dapat berinteraksi dengan orang atau benda di sekelilingnya, tidak mengenali orang tua, atau menurun drastisnya kontak mata).2,6

Anak yang tampak baik-baik saja hanya memiliki < 3% kemungkinan infeksi bakteri berat. Anak yang tampak sakit memiliki 26% kemungkinan, dan anak yang tampak toksik memiliki 92% kemungkinan infeksi bakteri berat.5

Gejala atau tanda yang dapat menunjukkan penyebab tertentu demam harus diteliti. Misalnya riwayat anak menarik-narik telinganya (otitis media), batuk (masalah saluran pernapasan), muntah/diare (masalah saluran cerna), atau menangis saat buang air kecil (ISK).5

Selain itu riwayat kesehatan anak juga harus diperhatikan, misalnya hal-hal sebagai berikut:

  • Anak dengan penyakit kronis yang menurunkan sistem kekebalan tubuh (seperti leukemia, HIV, diabetes, atau kelainan jantung bawaan) membutuhkan penanganan FUO yang lebih agresif.2
  • Anak yang baru saja menggunakan antibiotik juga membutuhkan penanganan lebih agresif karena anak-anak ini cenderung tidak tampak sakit.
  • Satu lagi yang harus diperhatikan adalah apakah anak tersebut menjalani hari-harinya di penitipan anak (day care). Anak-anak yang dititipkan di day care dan sering mengalami otitis media memiliki risiko lebih besar untuk mengalami pneumonia.

Penanganan

Dasar penanganan yang paling penting adalah apakah anak tampak toksik atau tidak.

Semua anak ≤ 3 tahun yang tampak toksik harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit untuk meneliti kemungkinan sepsis (bakteri dalam peredaran darah) atau meningitis.6

Penanganan dengan FUO yang tidak tampak toksik dibagi menjadi 3 berdasar kelompok usia: < 28 hari, 28-90 hari, dan 3-36 bulan.

Bayi < 28 hari

Pada kelompok usia ini, semua yang mengalami demam harus menjalani evaluasi di rumah sakit.6 Pemeriksaan yang dilakukan adalah:3

  • Hitung darah (eritrosit/darah merah, leukosit/darah putih dan jenis-jenisnya, platelet)
  • Kultur darah
  • Pemeriksaan dan kultur urin (melalui kateter atau pungsi suprapubik)
  • Pungsi lumbar untuk analisis dan kultur cairan serebrospinal (dari tulang belakang)
  • Kultur dan pemeriksaan feses
  • X-ray dada

Selain itu juga diberikan antibiotik.

Akhir-akhir ini banyak ahli yang menyarankan agar pemberian antibiotik dan perawatan di rumah sakit dilakukan hanya pada bayi dengan FUO yang berusia < 7 hari.3,6 Sedang pada bayi antara 7-28 hari yang memenuhi kriteria risiko rendah untuk infeksi bakteri berat, penanganan dapat dilakukan dengan pemeriksaan di atas tanpa diikuti pemberian antibiotik. Bayi diobservasi hingga hasil pemeriksaan di atas diperoleh. Jika kultur bakteri negatif, maka bayi tidak memerlukan antibiotik dan dapat diobservasi di rumah dengan catatan:

  • Orang tua dapat mengobservasi bayi dengan cermat
  • Terdapat akses yang mudah untuk memperoleh pelayanan medis
  • Dan terjaminnya follow-up si bayi

Yang termasuk dalam kriteria risiko rendah adalah sebagai berikut:2,6

Kriteria Rochester untuk Mengidentifikasi Risiko Rendah Infeksi Bakteri Berat pada Bayi Berusia < 90 Hari dengan FUO:

  • Bayi tampak baik-baik saja
  • Bayi sebelumnya selalu dalam keadaan sehat:
  • Lahir cukup bulan (≥ 37 minggu kehamilan)
  • Tidak ada riwayat pemberian antibiotik sebelum, saat, dan setelah kelahiran
  • Tidak ada riwayat pengobatan hiperbilirubinemia (kuning/jaundice) tanpa sebab
  • Tidak ada riwayat perawatan di rumah sakit
  • Tidak ada penyakit kronis atau kongenital
  • Tidak dirawat di rumah sakit lebih lama dari ibu
  • Tidak ada bukti infeksi kulit, jaringan lunak, tulang, sendi, atau telinga
  • Hasil laboratorium:
  • Sel darah putih 5,000-15,000 per mm3
  • Hitung sel batang (salah satu jenis sel darah putih) 1,500 per mm3
  • ≤10 sel darah putih per lapang pandang besar (LPB) pada pemeriksaan urin mikroskopis
  • ≤ 5 sel darah putih per LPB pada pemeriksaan feses mikroskopis bayi dengan diare

Antibiotik yang digunakan untuk kelompok usia ini adalah:3

  • Ampicillin 100-200 mg/kg/hari intravena dalam dosis yang dibagi setiap 6 jam dan gentamicin 7.5 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 8 jam
  • Atau ceftriaxone, 50 mg/kg/hari dalam 1 dosis
  • Atau cefotaxime, 150 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 8 jam

Bayi 28-90 hari

Pada kelompok usia ini, bayi juga dikelompokkan dalam risiko rendah atau risiko tinggi dengan Kriteria Rochester di atas. Jika bayi memiliki risiko tinggi, maka selain dilakukan pemeriksaan lengkap, juga diberikan antibiotik.2

Jika bayi masuk dalam kategori risiko rendah, maka ada 2 pilihan. Yang pertama adalah melakukan kultur darah, urin, pungsi lumbar, dan pemberian antibiotik di rumah sakit. Pilihan kedua adalah melakukan kultur urin dan observasi tanpa pemberian antibiotik, kecuali jika hasil kultur diketahui positif. Apapun pilihan yang diambil, evaluasi follow-up harus dilakukan dalam waktu 24-48 jam.2,3 Keputusan untuk melakukan observasi di rumah atau rumah sakit kembali lagi pada kemampuan orang tua melakukan observasi dengan cermat, kemudahan akses pelayanan kesehatan, dan terjaminnya follow-up.

Antibiotik yang dipilih sama dengan kelompok usia < 28 hari.3

Anak 3-36 bulan

Pada kelompok usia ini, yang pertama dilakukan adalah mengelompokkan apakah demam si anak < 390C atau ≥ 390C.2,3,6

  • Demam < 390C

Yang harus dilakukan adalah pengambilan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang teliti untuk mencoba mencari penyebab demam.2 Umumnya tidak perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium dan pemberian antibiotik jika anak tampak baik-baik saja, cukup diberikan antipiretik. Namun orang tua atau caregiver harus membawa anak kembali jika demam terus berlanjut dalam 2-3 hari atau jika kondisi anak memburuk.

  • Demam ≥ 390C

Rekomendasi terbaru untuk kelompok ini adalah:2,3,6

  • Kultur urin pada semua anak < 2 tahun yang diresepkan antibiotik
  • X-ray dada pada anak dengan sesak napas, laju napas yang cepat, ronkhi (bunyi tidak normal saat diperiksa dengan stetoskop), bunyi napas yang menurun, atau saturasi oksigen (dengan oksimeter) < 95%. Juga pada anak tanpa gejala tersebut yang memiliki leukosit > 20.000/mm3
  • Kultur feses jika ada lendir atau darah pada feses, atau ada > 5 leukosit per LPB pada pemeriksaan feses mikroskopis
  • Kultur darah

Ada beberapa pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama adalah melakukan kultur darah pada semua anak dengan demam ≥ 390C. Pendapat kedua adalah melakukannya hanya pada anak dengan demam ≥ 390C dan leukosit > 15.000/mm3. Pendapat ketiga melakukannya hanya pada anak dengan demam ≥ 390C dan leukosit > 18.000/mm3. Sedangkan pendapat yang cukup baru menekankan pada jumlah neutrofil (salah satu jenis leukosit, terdiri atas bentuk batang dan segmen). Jika neutrofil ≥ 10.000/mm3, baru dilakukan kultur darah.

  • Pemberian antibiotik

Antibiotik diberikan dengan kriteria yang sama seperti penentuan perlu tidaknya kultur darah. Pemberian antibiotik juga dapat dipertimbangkan jika orang tua atau caregiver tidak dapat diandalkan untuk melakukan evaluasi follow-up.
Antibiotik yang dipilih adalah ceftriaxone, 50 mg/kg/hari dalam dosis tunggal atau  cefuroxime, 150-200 mg/kg/hari dalam dosis yang dibagi setiap 6-8 jam.

  • Follow-up dalam 24-48 jam

Untuk melihat algoritma penanganan demam tanpa penyebab yang jelas pada anak < 3 tahun, mohon merujuk pada sumber nomor 2.

Sumber :

Oleh : dr. Nurul Itqiyah H

KEJANG DEMAM

sumber : milis sehat

Kejang bisa didahului demam atau tanpa demam.
Demam bisa disebabkan infeksi atau non-infeksi

1. kejang tanpa demam = mengarah ke epilepsy
2. kejang didahului demam, kemungkinan :

a. kejang demam
-sederhana : kejang didahului demam, 1x dalam 24 jam, <15
menit, kejang umum (kelojotan, mata mendelik keatas jadi terlihat putihnya
saja) bukan disebabkan oleh infeksi di dalam otak atau gangguan elektrolit,
usia 6 bulan - 5 tahun
-kompleks : bila tidak memenuhi syarat kejang demam
sederhana (>15 menit, >1x/24 jam, kejang setempat/fokal mis.kaki saja,
tangan saja)

b. bukan kejang demam : ada tanda infeksi otak atau gangguan
elektrolit (meningitis, ensefalitis)

Jadi bila ada kejang :
1. tentukan ada demam atau tidak
2. bila dengan demam maka lihat apakah kejangnya masuk criteria kejang demam
sederhana? Caranya : Disingkirkan dahulu ada infeksi otak / tidak
(meningitis/ensefalitis). Bila tidak ada tanda-tanda infeksi
meningitis/ensefalitis dan gangguan elektrolit (misal diare berat) kemudian
cocokkan apakah dengan kriteria kejang demam sederhana bila sesuai maka
masuk diagnosis kejang demam sederhana
3. kemudian cari penyebab demam dan ditatalaksana demam sesuai penyebabnya.

Semoga membantu

-anto-

============

punya anak lagi, blm tentu sama dengan kakaknya.hm... semoga g pernah KD. klopun KD, insyaallah udah tau ilmunya. tapi ttp aja was was

Rabu, 21 Oktober 2009

Demi memberi ASI sampai 2 tahun : Saya Menyusui saat Hamil

sumber :
http://owleyelfiana.multiply.com/journal/item/70/_Demi_memberi_ASI_sampai_2_tahun_Saya_Menyusui_saat_Hamil_

Berbagai perasaan berkecamuk, waktu saya menerima hasil tes kehamilan anak ke-3. Bingung, sedih dan kuatir begitu berat menggelayut hati. Saya harus tetap mensyukuri titipan ini, tapi di sisi lain gundah pun tak terbendung. Sebab utamanya adalah saat itu anak ke-2 saya Fella, belum genap 8 bulan, sedang kandungan sudah masuk bulan ke-2. Bidan yang mengkonfirmasi kehamilan langsung melarang saya menyusui Fella, hancur hati ini melihat air matanya saat beberapa kali saya berusaha menyapih. Bukan salah Fella bunda hamil lagi, tapi kenapa harus Fella yang paling dirugikan.

Syukurlah, kehamilan ketiga nyaris tidak ada keluhan. So, masalah saya hanya bagaimana menyapih Fella. Tapi hingga minggu ketiga kehamilan terungkap saya tetap tidak berhasil. Saya pun mulai mencari literatur untuk mencari tahu secara ilmiah apa yang harus saya lakukan. Antara sedih harus menyapih dan kuatir janin yang saya kandung kurang gizi. Walaupun selama tiga minggu masa “bingung” saya makan protein 2 kali lipat biasanya, dengan asumsi ada 2 makhluk yang bergantung nasibnya pada makanan yang saya makan.

Alhamdulillah, Allah menolong saya. Menurut satu literatur moderen yang bicara tentang manajemen laktasi, saya sama sekali tidak perlu menyapih Fella. Katanya “Alam sudah mengatur untuk mendahulukan nutrisi janin, kemudian bahan baku ASI, baru memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh Ibu. Jadi kalo ibu baik-baik saja, tidak pusing dan lemas, atau menunjukkan tanda malnutrisi lain, tidak ada salahnya untuk menyusui saat hamil. Meski ini bukan kondisi ideal untuk hamil.” Bahkan literatur itu juga menyatakan, “Setelah bayi lahir, kakaknya tetap harus disusui sampai 2 tahun secara tandem dengan selalu mendahulukan kebutuhan ASI adik bayi.”

Saya pun sujud syukur, bahagia sekali rasanya bisa keluar dari dilema ini tanpa rasa bersalah. Dengan berucap Bismillah, saya berjanji untuk tetap menyusui Fella hingga 2 tahun apapun yang terjadi, dan menitipkan nasib janin di kandungan pada Allah. Saya juga mulai makan teratur dan buanyak karena mudah lapar. Juga minum suplemen vitamin, tambah darah dan kalsium. Bahkan saking serunya nambah asupan protein Fella sampai kena alergi kulit, karena bunda makan terlalu banyak protein hewani.

Akhirnya Faza pun lahir, katanya bayi cowok nyusu lebih banyak, sempet deg-degan juga. Karena 2 kakaknya cewek semua. Saya hanya satu malam dirawat, begitu pulang hal pertama yang saya lakukan adalah belajar menyusui dua anak sekaligus. Can You imagine…? Menyusui satu bayi sambil bobok miring… sementara kakaknya nangkring di atas tubuh saya… Dengan kondisi jahitan post partum yang masih nyer-nyeran sekali. Ada rasa kuatir ASI tidak cukup, padahal kali ini saya rencana memberi bayi ASI eksklusif 6 bulan.

Segala puji bagi Allah, 6 bulan Faza dapat ASI ekslusif tanpa tambahan apapun, dan Fella 21 bulan masih tetap dapat ASI. Waktu Faza umur 10 bulan, Fella baru disapih. Saya kira bakal kurang penderitaan karena ASI masih disedot Faza. Ternyata tetap saja bengkak, padahal sengaja Faza tidak saya beri makan selama masa menyapih Fella untuk mengurangi derita. Faza sampai gigit puting saya, dia kesal sudah kenyang masih dipaksa menyusu terus.

Kejutan datang lagi. Belum 2 bulan Fella disapih, ternyata saya sudah hamil lagi. Saya benar-benar tidak sempat memikirkan KB, karena saya hanya sekali mensturasi selama menyusui tandem, itu pun waktu saya sedang repot menyapih Fella. Sama sekali tidak terpikir pergi ke bidan untuk KB. Eh koq langsung hamil. Sambil terus menata hati untuk tetap mensyukuri titipan Allah ini, kembali saya menjalani masa hamil sambil menyusui plus merawat 2 batita. Alhamdulillah, kali ini saya benar-benar fit. Bahkan mampu bersepeda dengan Fella bonceng di belakang dan Faza di depan, sampai kandungan yang sudah 6 bulan mentok kursi bayi di stang sepeda.

Semua berjalan begitu cepat, tiba waktunya saya melahirkan. Saat itu fella berumur 2 tahun 10 bulan, dan Faza 18 bulan. Anak ke-4 cowok lagi, Ghazi namanya. Setelah dirawat semalam, di rumah saya harus menyusui dua bayi lagi. Dengan rasa sakit post partum lebih parah dari sebelumnya, kata Bu Bidan kandungan harus istirahat minimal 3 tahun karena perlukaan pasca melahirkan sebelumnya tidak pernah sembuh sempurna. Makanya sakit minta ampun, bukan mules tapi perih rasanya di rahim.

Atas izin Allah Ghazi tumbuh lebih pesat dari Faza waktu seumurnya, mungkin karena faktor genetis, dan mendapat ASI Eksklusif 6 bulan juga. Tetapi Faza sulit disapih dan cukup agresif pada adiknya dibanding Fella, untung Ghazi besar jadi tidak begitu terjajah. Menjelang 3 tahun Faza baru berhasil diberi pengertian dan sedikit tekanan untuk mau disapih. Sekarang Ghazi sudah 2 tahun lebih sebulan, masih belum mau disapih. Padahal saya mulai sibuk membuat tulisan dan terima order terjemahan, jadilah saya menyusui sambil mengetik di depan komputer. Demi memberi ASI apapun akan saya lakukan.

Banyak halangan untuk menyusui saat hamil dan menyusui secara tandem. Baik secara tehnis internal antara saya sebagai bunda dan dua bayi yang sering bersaing dalam menyusu. Maupun secara eksternal, yang sering memberi hambatan psikologis, seperti tulisan kontra di literatur sampai komentar para orang lain yang tidak setuju dan menyalahkan kehamilan yang begitu rapat (Is there anything in the world that can stop Allah SWT from sending a baby to a mother’s womb ? Most precious gift from Heaven even when it come unexpected. All we have to do is saying Alhamdulillah from the bottom of our heart and gladly accept it). Katanya kalau masih menyusui saat bunda hamil lagi akan berakibat buruk bagi bayi dan janin. Tapi kenyataannya, saya tidak mengalami satupun hal negatif yang menurut sejumlah sumber mungkin terjadi saat hamil sambil menyusui.

Masa paling berat dalam menyusui secara tandem adalah waktu salah satu sakit, keduanya pasti akan saling tertular. Saat sakit mereka tidak mau makan, praktis nutrisi hanya dari ASI, padahal semua ibu pasti merasakan betapa sulit menelan makanan saat buah hati sakit. Untunglah daya tahan tubuh ketiga balita saya kuat, penyakit paling lama menyerang 3 sampai 4 hari. Saya tidak pernah memberi ketiga batita saya antibiotik selama pemberian ASI, kecuali sekali saat Fella dan Ghazi terkena radang saluran telinga. Bahkan Faza belum pernah sekalipun hingga detik ini menelan antibiotik. Obat herbal adalah senjata saya. Berkat rahmat Allah, dengan ASI ketiga batita saya tumbuh sehat dan cerdas.

Teman-teman para bunda yang saya cintai, asal ada niat kuat tidak ada alasan untuk berhenti memberi bayi ASI sebelum 2 tahun. Karena ASI adalah syurga pertama yang dapat kita berikan pada buah hati di Golden Agenya. Semua literatur yang saya baca bahkan Kitab Al Qur’an sendiri menyerukan untuk memberi ASI hingga 2 tahun. Karena saat itulah otak berkembang paling pesat hingga 80% dari total massanya saat dewasa dan ASI dengan segala keistimewaannya adalah bahan baku terbaik untuk membangun otak. Sadarilah bahwa syurga di bawah telapak kaki ibu bukan barang gratisan, hanya bunda yang mau mensyurgakan anak-anaknya berhak atas syurga ditelapak kakinya. Sekarang semua sarana sudah tersedia lengkap untuk mendukung pemberian ASI, bahkan saat bunda harus pergi kerja. Apa masih ada alasan yang pantas diterima untuk tidak memberi ASI ???

Sabtu, 17 Oktober 2009

[SHARE] Resiko Susu Formula Diawal Kehidupan Bayi

Dear All,just wanna share a story told by a friend last night. 

Kira2 seminggu lalu Ibu A melahirkan di RS X, bayinya lahir sehat 2,9 kg.Pd wkt itu (mnrt cerita nenek sang bayi) ASInya si A sedikit, dan sewaktu bayinya menyusu ASInya tidak keluar.Anyways, bayi nya diberi sufor Z, kemudian bayinya diare, sufor Znya lalu diganti dengan susu lain. Mnrt tenaga medis RS tsb, diare berkurang namun krn dampak diare berkepanjangan kmrn, paru2 bayi mengecil dan lalu hrs diinfus. Ibu A, sdh blh plg, sementara anaknya rawat inap. Tiba2 pagi2 dpt telp dr RS yg mengatakan bhw anaknya dlm kondisi kritis, dan dia buru2 ke RS. Singkatnya bayi tsb tdk dpt tertolong dan lalu meninggal. 

Nah, jangan sampe ada yang nanya RS mana, susunya apa yaa... :P That's NOT THE POINT! RSnya ya RS yang sudah biasa menangani kelahiran bayi dan susunya ya susu yang biasa diberikan ke bayi baru lahir, baik di RS itu maupun RS lain. 

THE POINT IS,kalo selama ini pernah baca berbagai resiko susu formula, khususnya di awal kehidupan bayi, ya memang bener.Kalo ada yang bilang "udah lazim bayi dikasih sufor sebelum ibunya bisa menyusui dan buktinya bayinya gak apa-apa",well it's a risk for they to take.Will you take that kind of risk for your loved ones?Tentu kita menyayangkan tindakan RS yang bukannya mempromosikan ASI dan membantu ibu agar dapat menyusui,malah merekomendasikan susu formula bagi si bayi.Tapi juga gak kalah disayangkan bahwa ibu A dan keluarganya tidak stood up for the baby dan misinformed tentang pentingnya ASI di awal kehidupan bayi.Bersyukurlah kita yang sudah tahu lebih dulu.Let's do something about it,at least buat lingkungan terdekat kita. 

Semoga berkenan,Cheers,Bundanya Deyka-- Sari Intan KailakuAIMI - Asosiasi Ibu Menyusui Indonesiasari.kaylaku@aimi-asi.orghttp://aimi-asi.org/Menyusui: Anak Sehat, Keluarga BahagiaAIMI adalah organisasi nirlaba yang berbasis kelompok sesama ibu menyusui dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, informasi tentang ASI & prosentase ibu menyusui di Indonesia.

Cinta #14 Anak kampung-anak kota

sumber : milis sehat
Fri Jun 15, 2007 10:24 pm

Dear all
makin numpuk hutang saya hehe
tadi mencoba buka2 email tg 30 Mei ... ceritanya mau bikin BR sesuai
kemampuan sampai tg berapa gitu hehehe tapi mata keburu kriyep2
bueraat

Tapi pas mau shut down lho ada 2 email baru
satu dari teman muda saya di fakultas kedokteran .. rencana mau
ketemuan Semoga kali ini kesampaian) dan satunya dari Maya ... wah
lantas melek lagi
Hehehe Thanks Maya n Fitria yang "menepis" pandangan ASI = tak metropolis hehehe
kira2 gitu deh emailnya Widya kan ya

Hmmm.... jadi tertarik nih
Sudah sejak lama kalau saya kasih ceramah saya bikin statement kampung vs kota
hehehe
===============================================================

Anak kampung ingusan vs anak kota ingusan ....

Di kampung mah .... ingusan gak masyalah .. teteup main bola, teteup
nyemplung ke kali, teteup ujan2an hehehe
Di kota .... anak ingusan serumah sewot ... entah takut apa .. ada
yang bilang .. takut turun ke paru-paru2 ... padahal kan ada refleks
batuk ... ingusnya kan
jadi "mental"
Jadilah anak kota dapat puyer pilek ibarat jamu campur sari
Ada antihistamin, ada efedrin/pseudioefedrin, ada antibiotik, ada
luminal, dengan atau tanpa steroid

... Salahkah saya kalu terus bergumam ... hmmmm nikmatnya jadi anak kampung ....
hehehe

Anak kampung mencret vs anak kota mencret
Anak kampung mencret emaknya nggodong daun jambu ... srusup srusup ... kudu
habis ... fluid kan ... biar gak dehidrasi ... kalau masih nemen .. ke
puskesmas .. dikasih oralit deh
Anak kota pup lembak atau diare ringan ... dibawa ke RS the best in town hehehe
... Puyer AB dengan ensim, lactoB, Nifural, dan nafsu makan ...
katanya "obat" nafsu makan hehe
Malah tambah lembek pupnya wong gak butuh tapi kok dikasih AB.

....Salahkah saya kalau lantas bergumam ... Hmmm nikmatnya jadi anak desa ....

Anak desa batuk vs anak kota batuk
Anak desa batuk dikasih air jeruk nipis hangat ... air jahe ... hehehe
... uenak and nikmat tenan ...
Nemen? .... jalan ke Puskesmas ... dapat OBH
Kalau rada kaya Puskesmasnya dikasih puyer batuk hehehe tapi isinya
lebih slim ketimbang puyer kota

Anak kota batuk ... duh ... begitu keluh Ibu
Ada data rinci tanggal sekian batuk kering ... 2 hari kemudian grok
grok, lalu muntah ... pokoknya laiknya penyusunan suatu delik aduan
.,.. rinciiii banget
Ke dokter, obatnya salbutamol teofilin, bisa juga tambah codein, terus
ada anti alergi dan AB, dan hampir pasti steroid ... hikkkkkksss
Medicine is an arts ...
Hus ... Medicine is a science!

.... Salahkah saya kalau lantas bergumam .... Subhanallah ... Betapa
beruntungnya jadi anak desa ...

Anak kampung asli makan ... vs ... anak kota makan semu
Anak kampung makan belut seger baru ambil dari sawah, pake sambel sama
lalap lalapan ....
Keringetan ... nambah .... adanya tinggal pepes tahu ... cocol lagi ke sambel
... ah masih ada daunsingkong rebus .. lumayan pake sisa ikan asin ...

Anak kota ... katanya gak nafsu makan (meski perutnya tambun) ....
meski hidangan di meja makan apa sih kurangnya ... dan kalau masihb
kurang tinggal
teriak sama mbak/BS ... kalau perlu bisa delivery order hehehe
Gak gak ... anak kota selera makannya rendah
Menu makanan pun jadi beda banget
Ada multivitamin, ada susu plus plus, ada nafsu makan, ada buat sistem imun
(kalau gak nafsu makan kan nanti daya imun bisa turun begitu celetuk seorang ibu
kota) ... sayurnya juga bukan rebusan atau kukusan atau lalapan mentah ...
sayurnya anak kota dah dalam bentuk kapsul, serbuk, sirup dll

... salahkah saya kalau lantas bergumam ... hmmm ... nikmatnya jadi anak desa
...

Anak kampung main layangan, main di kali, main di sawah ... vs ....
anak kota main di mall
... salahkah saya kalau lantas bergumam ... duh kayanya kehidupan anak
kampung....

Ibu kampung bedding in .... vs ... Ibu Kota bingung rooming in gak ya
... enaknya lahir di kampung .. 24 jam dipeluk mamah .... serasa masih dalam
kandungan ... gak berasa dah di dorong brojol ke dunia yang "keras" ini
Masih hangat, masih mendengar degup jantung mu Mak
24 jam nyium bau badanmu Mak
Aku merasa aman mamah ...
ternyata dunia tak sekeras yang aku duga semula

.... Salahkah saya kalau lantas bergumam ... beruntungnya bayi desa ... hangat
dan nyaman serta diselimuti rasa aman

Ibu kampung menyusui ... vs .... kebingungan ibu di kota
Gak ada cerita baby blues, gak ada cerita bingung, gak ada cerita mertua atau
ibu yang membujuk sufor, gak pusing apa sufor terbaik buat anak ... tancap asi
24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun ... terus deh
Ibu di kota ... gamang ... asi gak bakal cukup katanya ...
asi mah sekarang dah jadi "hikayat"

memang ... kalau bicara pendidikan, lahan kerja, peluang ...di kota
lebih terbuka lebar
tapi ... kalau kita bantu saudara2 kita di kampung ...
jangan2 anak kampung bisa ngebut menyaingi anak kota hehehe

dongeng sebelum tidur

selamat malam
maaf yaaa masih banyak hutang

wati

Selasa, 13 Oktober 2009

dokter umum

http://cakmoki86.wordpress.com/
yang ini dokter umum. cak moki yang baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung...... hehehehe... piss cak

yg mo konsul silahkan... gratis kok (katanya.... :) )

dokter anak

http://dokterearekcilik.wordpress.com/
klo mo konsul ttg kesehatan anak, monggo...... dijamin RUM n RUD