wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)


Rabu, 23 Juni 2010

Kisah ASI: Perjalanan 3 Botol Cinta

sumber :


http://www.eramuslim.com/oase-iman/a-mustari-kisah-asi-perjalanan-3-botol-cinta.htm





Oleh A. Mustari





Halo, kami tiga buah botol. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari diri
kami. Kami hanya botol minuman kemasan vitamin C yang banyak dijual di
retail-retail. Ketika isinya habis, sebentar saja kami sudah masuk ke
dalam bak sampah dan diangkut ke TPA terdekat.





Tapi tunggu… di sinilah perjalanan cinta kami dimulai!





Seorang bapak pemulung tua memungut kami dengan binar cinta dan harapan.
Setidaknya ada rupiah yg bisa dibawanya pulang. Sampai ke pengepul,
kami digosok, distelisisasi, hingga.. cling! Tak ada yang menyangka kami
pernah teronggok di tempat sampah. Kerennya… recycle nih.





Meski kami sering tak suka dengan sesuatu yang berbau eksploitasi, kali
ini kami senang diperdagangkan. Mengapa? Karena pedagangnya mengambil
kami dengan halal, malah mengurangi volume sampah ibukota. Terlebih
lagi… pemulung dan pengepulnya mencari usaha yang halal meski tak
sedikit orang yang mencibir. Tak ada yang perlu merampok kami untuk
mencari uang. Kami pun menjadi apa adanya diri kami. Dengan kami, mereka
menyuapkan sesendok nasi untuk anak dan istrinya. Di dalamnya tersimpan
berkah, doa, dan cinta.





Dan… nah! Kami pun sampai di tengah keluarga kecil sederhana. Seorang
ayah yang suka makan, ibu yang cuek, anak perempuan 5 tahun yang tidak
bisa melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi
mungil nan cantik berusia 1 bulan.





Di sinilah perjalanan cinta kami BENAR-BENAR dimulai!





Satu bulan sebelum mulai meninggalkan cuti melahirkannya, ibu si Baby
sudah mulai mensterilkan kami lagi dan lagi. Di tengah waktunya mengurus
seorang ayah yang suka makan, anak perempuan 5 tahun yang tidak bisa
melakukan sesuatu tanpa gerakan dan celotehan, dan seorang bayi mungil
nan cantik, ia mengisi kami satu persatu. Setelah mencuci popok-popok
dan pakaian, setelah menyetrika, setelah memasak, setelah mengedit
naskah, setelah melayout, setelah mendesain, setelah menulis ide-idenya,
sambil menahan kantuk, ia memaksakan diri untuk mengisi kami.





Mengisi kami dengan cairan cinta….





Sesungguhnya bagi perempuan itu, tidak ada yang mewajibkannya bekerja.
Sama halnya dengan tidak wajibnya ia untuk berada di rumah saja. Ah, dia
lebih suka memakai kata berkarya daripada bekerja. Baginya semua
hanyalah pilihan. Ketika situasi dan kondisi memberikannya jalan untuk
berkarya, ia menjalaninya dengan senang hati. Menjadi ibu bekerja bukan
berarti tidak mencintai dan mengabaikan anak-anak. Banyak juga ibu yang
selalu di rumah nyatanya yang stres karena anak-anaknya. Tidak selalu
satu ditambah satu sama dengan dua, prinsipnya. Ia hanya berusaha untuk
sedikit cerdas menyiasati dan berdamai dengan kondisi yang serba
terbatas. Karena ia tahu, betapa banyak ibu bekerja yang dalam hatinya
menjerit karena naluri keibuannya menuntutnya untuk selalu mendampingi
anak-anaknya. Ia pun salah satu di antaranya. Tetapi ia memilih untuk
tersenyum, bukan menjerit. Pun ketika ia memilih untuk hanya memberi ASI
kepada anaknya, bukan susu formula, ia berjuang sekuat tenaga untuk
mendapatkan yang terbaik sambil tetap tersenyum.





Dua bulan berlalu. Akhirnya ia mulai harus benar-benar meninggalkan
kebahagiaan sejatinya. Ia harus mulai bekerja lagi. Si ibu mulai jarang
kelihatan di rumah. Setiap pagi, ia membawa tiga di antara kami yang
kosong, bersama dua tangkup es biru. Ia sering dibilang keras kepala dan
memaksakan diri, tapi ia tak pernah keberatan. Apalah artinya tuduhan
bila dibayar dengan kepuasan rasa telah berusaha memberikan yang terbaik
untuk bayi kecilnya. Bagi sebagian ibu, dapat memberikan anaknya asi
eksklusif adalah sebuah kewajaran, tetapi baginya --yang selalu bekerja
sejak pagi hingga sore-- itu adalah sebuah pencapaian yang
membahagiakan.





Setelah menciumi bayinya tak ada henti pagi itu, tak lupa membalurinya
dengan doa, si ibu melangkahkah kaki panjang-panjang. Ia melompat ke
dalam angkot, menyusup ke dalam ular besi yang selalu penuh sesak,
menuju tempatnya berkarya. Baginya semua adalah karena cinta. Itulah
bedanya bekerja dengan berkarya. Ketukan keyboard dan goresan kursor
yang tercipta karena cinta memiliki tenaga yang akan membuatnya diterima
oleh hati siapa pun. Tidak selalu indah, tetapi kekuatannya dapat
dirasa.


Itulah juga yang kami rasakan. Kami botol-botol cinta, begitu sebutan
darinya. Bahagia bukan kepalang. Kami hanya botol-botol seribu rupiah.
Tapi kami terisi cairan tak ternilai rupiah. Makanan terbaik bagi bayi
yang baru mengenal dunia.





Satu demi satu kami terisi penuh. Ketika matahari mulai lelah, hendak
menuju kasur empuknya, si Ibu dengan riang memasukkan tubuh kami ke
dalam ranselnya yang selalu kembung. Kami ikut terguncang ketika ia
berlarian mengejar ular besi yang tampaknya terlalu dirindu. Meski tak
sekali ia terjatuh mengejar ular yang sering mengecewakan itu, tak ada
jera sang ibu terus berharap. Tampak buncahan rasa rindu karena
memikirkan bayinya yang lucu. Sejenak ia tersenyum membayangkan
hidungnya digigiti gigi muda yang baru berputik, rambutnya ditarik
jemari kecil nan gendut-gendut, roknya digelantungi tubuh kecil yang
mulai belajar berjalan.





Kami, tiga botol cinta, semakin didekapnya erat ketika ular besi yang
digelantungi manusia bak semut mulai muncul. Tubuh mungilnya melompat ke
dalam dan terombang-ambing sejenak. Di dalam ular besi yang membuat
orang kurus itu pun ia tetap tersenyum, memikirkan obat
anti-depresannya. Obat anti depresan yang mulai pintar merengek dikala
melepas kepergiaannya setiap pagi.





Dan... terbanglah kami bersamanya. Kami, tiga botol cinta....





***


"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena
anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin
menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin
anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila
kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada
Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(al-Baqarah : 233)





***





Aminah Mustari,


Ibu yang bekerja fulltime, ibu yang juga memberikan ASI eksklusif untuk
bayinya.


tebarkebaikan@yahoo.com