wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)


Senin, 28 Juni 2010

perlukah test sidik jari? (kesimpulan sy g perlu ^^ )



sumber :
http://health.groups.yahoo.com/group/sehat/message/199909

> Tes sidik jari (finger print test/FPT), walaupun memang harganya masih
> tergolong mahal tetapi menurut saya banyak manfaatnya khususnya bagi orang
> tua dalam mendampingi dan membimbing pendidikan anak kita. Memang masih
> banyak pro-kontra manfaat FPT. Penjelasan secara ilmiah mungkin akan lebih
> baik bila disampaikan oleh ahlinya/psikolog.
>
Makasih sebelumnya mbak yessy atas artikelnya yang menarik. Sengaja saya
potong disini supaya point argumen saya pas :D
maaf mbak Yessy tapi saya kurang sependapat dengan analisa penggunaan
finger print ini.
Karena apapun makanannya (jenis alatnya maksudnya :D biar nda serius2
bgt) finger print hanyalah scanner "image" dari sidik jari kita.
Perbedaannya hanya hasil
ketepatan/kejelasan alur gambar, tidak lebih
dari itu.
Adapun apabila sidik jari digunakan oleh pihak berwajib semata-mata
karena unik. Itu saja. ini yang menyebabkan beberapa negara maju
memutuskan membuat central public key infrastructure berdasarkan sidik jari.
Ketepatan sidik jari sendiri seiring berjalannya dengan waktu (bertambah
tua), akan menjadi tidak tepat dalam skala tertentu. Itu kalau parameter
yang digunakan harus detail sedetail-detailnya (base on equal error rate
or crossover error rate (EER or CER)), seperti biometric security device
misalnya.
Ini argumen dari saya mengenai tulisan ibu, bahwa sidik jari tidak
mengalami perubahan.

Dari sisi keunikannya sendiri finger print sebenarnya belum seluruhnya
memenuhi standarisasi biometric yang telah ditetapkan (IEEE Computer
Society Conference on Computer Vision and Pattern Recognition (CVPR'04),
2004).
Dikarenakan ketidak tepatan tersebut,
untuk identifikasi yang lebih
modern berdasarkan keunikannya untuk dekade sekarang sudah menggunakan
cara lain, seperti pupil dan retina mata contohnya, karena lebih akurat
dan tentunya dengan maksud keunikannya lebih terjaga. Sependek yang saya
tahu, penelitian dan standarisasi (IEEE) teknologi finger print baru
sebatas ini saja, baik digunakan oleh kalangan militer, banking, maupun
sekolah.

Alasan lain kenapa saya tidak sependapat, juga saya kutip dari tulisan
ibu diatas, yang disebutkan "Penjelasan secara ilmiah mungkin akan lebih
baik bila disampaikan oleh ahlinya/psikolog".
Dalam pelaksanaannya, test ini tetap "sebatas mencetak" finger print,
dan kemudian diartikan/ dianalisa oleh sang psikolog/analyst dan bukan
penjelasan ilmiah (cmiiw).

Demikian ibu yessy sanggahan dari saya, mohon maaf apabila ada tulisan
yang kurang berkenan.
Tidak lain dan tidak bukan hanya memberikan argumen dari sudut
pandang
yang berbeda.
Saya sependapat dengan sps yang lain. lebih baik uangnya ditabung untuk
keperluan yang lain seperti ikut pesat misalnya :D

PS : saya sendiri sampai sekarang belum bisa baca sidik jari putri saya
sewaktu lahir yang ditempelkan di surat kelahiran dari RS karena sama
sekali nda jelas.. wong cuma dicelup ke tinta :D

regards,

rony - papa kayla