wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)


Senin, 08 September 2014

Fase Tadrib dan Fase Taklif pada Anak

Fase Tadrib dan Fase Taklif pada Anak

Oleh: Adriano Rusfi


Dari sisi beban tanggung jawab agamanya, maka perjalanan hidup manusia terbagi dalam tiga periode: masa pra-latih (di bawah 7 tahun), masa pelatihan/ tadrib (7 - 12 tahun), dan masa pembebanan/taklif (di atas 12 tahun).

Maka orangtua yang bijak adalah orangtua yang menempatkan sang anak pada tempatnya. Mereka tak akan membebani anak sebelum masanya. Dalam hal ini tak berlaku kaidah lebih cepat lebih baik. Hendaklah para orangtua takut akan datangnya Hari Pengadilan, di mana seorang anak mengadukan orangtuanya kepada Allah, karena mereka dipaksa latih sebelum waktunya, dan dibebani taklif syar'ie sebelum waktunya.

Saat ini banyak para orangtua dengan semangat beragama menggebu-gebu ingin sesegera mungkin melekatkan identitas syar'iyyah kepada anak-anaknya. Padahal agama menetapkan bahwa pelatihan dan pembiasaan syari'ah dimulai pada usia 7 tahun. Contohnya : banyak orangtua yang telah menjilbabkan anak gadisnya pada usia yang masih sangat kecil, jauh sebelum 7 tahun, bahkan bayi. Maksudnya tentunya sangat baik, dalam rangka pembiasaan sejak dini.

Begitu juga dengan orangtua yang menargetkan jumlah hafalan Al-Qur'an tertentu pada anak usia dini. Status ini saya buat karena saya sedang menghadapi kasus siswa-siswa SMA yang dilaporkan orangtua mereka sebagai "tak lagi berkomitmen pada Islam". Padahal waktu kecilnya mereka ditanamkan Al-Islam dengan baik dan ketat.

Dalam Islam, ada tiga periodisasi pendidikan yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan dibakukan oleh sejumlah ulama, seperti DR. Abdullah Nasih 'Ulwan dalam kitab "Tarbiyatul Aulad".

Usia tadrib dimulai dari 7 tahun. "Perintahkanlah anakmu shalat saat dia telah berusia 7 tahun" [Hadits]. Sedangkan usia taklif adalah saat aqil-baligh (agama menyebut mereka sebagai mukallaf).

Kalau toh ada sejumlah ulama yang mengalami akselerasi, saya yakin itu bukan hasil drilling para orangtua mereka. Tapi atas kesadaran sendiri karena nilai-nilai cinta yang telah ditanamkan para orangtua. Lalu orangtua memandu anak yang atas cinta dan kesadaran sendiri ingin menghafal AlQur'an dsb.

Jadi, walaupun kewajiban belajar calistung baru dimulai pada usia 7 tahun, tapi jika anak atas kemauan sendiri ingin belajar pada usia 5 tahun, ya silakan langsung dipandu. Jangan ditunda-tunda dengan alasan "belum waktunya". Dan kunci dari "kesadaran sendiri" ini adalah KETELADANAN.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka telah berusia tujuh tahun".

Saat itu saya bertanya-tanya, kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak berkata: "Perintahkanlah anak-anakmu shalat sedini mungkin" ???

Ternyata masa 7 tahun itu adalah masa memulai sebuah proses tadrib syar'ie. Teori-teori psikologi sangat banyak bicara rentang usia 7 - 12 tahun ini. Ternyata, Allah dan RasuNya selalu benar. Maka sebagai ummatnya, kita ya mengikut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja lah...

Tidak ada salahnya anak melatih dirinya sebelum itu, selama atas kesadarannya sendiri, hasil motivasi dan keteladanan dari kedua orangtuanya. Itulah yang disebut dalam psikologi sebagai Learning Readiness.

Tugas pendidikan sebelum 7 tahun adalah: TANAMKAN CINTA ATAS ALLAH. AL-ISLAM, RASULULLAH DAN ALQUR'AN, MELALUI MOTIVASI DAN KETELADANAN. Jika karena dorongan cinta itu akhirnya anak atas KEHENDAKNYA SENDIRI ingin mentadrib dirinya dengan syari'ah sebelum 7 tahun, maka tak dilarang membantu anak untuk melakukannya.

Misalkan contoh tadi, memaksakan berjilbab pada usia pra-latih itu nggak boleh, Tapi kalau anaknya sendiri yang kepengen, karena termotivasi atas keteladanan orangtuanya, ya silakan. Itu alhamdulillah banget.

Sekali lagi, jangan sampai anak kita kelak di Mahkamah Allah mengcomplain kita, karena kita merampas hak-hak yang telah Allah berikan pada mereka.

KENYANGKAN HAK ANAK PADA WAKTUNYA, MAKA IA AKAN MELAKSANAKAN KEWAJIBANNYA PADA WAKTUNYA.

Lebih banyak orang tua yang "santai" namun bertanggung jawab dalam pendidikan agama anak-anaknya, ternyata menghasilkan anak-anak yang lebih komit pada agamanya, daripada analk-anak hasil drilling dan paksaan orangtua.

Jangan lupa : KEHIDUPAN BAGAIKAN LARI MARATHON, DAN AKHIR ITU LEBIH PENTING DARIPADA PERMULAAN.

Pendidikan dasar harus kuat landasan agamanya. Yang salah adalah kalau di sekolah agama tersebut anak-anak kurang mendapatkan sentuhan aqidah, tapi malah syari'ah dan akhlaq melulu. Walau yang utama adalah tanggung jawab pendidikan agama itu di rumah, bukan di sekolah.

Allah menyatakan bahwa syariah itu taklif (beban), sesuatu yang anak nggak suka. Hanya aqidah lah yang membuat segala hal yang berat menjadi terasa ringan.

TAK AKAN ADA ANAK YANG MENCINTAI SHALAT. NAMUN JIKA DIA MENCINTAI ALLAH, MAKA DIA AKAN MENEGAKKAN SHALAT DENGAN PENUH KECINTAAN.

Landasan dari semua amal shaleh adalah iman/aqidah. Iman itu yang akan melahirkan kecintaan pada alhaq dan kebencian pada albathil. Rasulullah sendiri membangun iman selama 13 tahun di Makkah, baru menegakkan sebagian besar syari'ah di Madinah. Maka, kunci utama pendidikan aanak adalah keimanan. Inilah yang harus ditekankan pada pendidikan usia dini.

MISI PENDIDIKAN ANAK KITA ADALAH MEMBENTUK MUSLIM KAAFFAH, BUKAN MEMBENTUK MUSLIM SPESIALIS AGAMA.

Ada anak dari kecil sudah dipesantrekan, sudah hafidz qur'an. Tapi menginjak dewasa malah kabur dari pesantren. Ada dua penyebabnya:
Pertama, iman dan keridhaan atas Allah sebagai rabb, Islam sebagai AdDiin, Muhammad sebagai Rasul tidak lagi menjadi landasan pendidikan agama anak-anak kita. Segalanya dibentuk paksa.
Kedua, segalanya dilakukan tidak pada waktunya. Ada semangat keislaman yang menggebu-gebu, tapi tanpa ilmu.

ANAK-ANAK YANG DIPESANTRENKAN, MAKA DO'A ANAK TAK AKAN SAMPAI PADA ORANGTUANYA, KARENA BUKAN ORANGTUA MEREKA YANG MENDIDIK MEREKA DIWAKTU KECIL.

Pesantrenkanlah anak setelah mereka aqil-baligh. Karena tujuan dari pendidikan adalah imunisasi, bukan sterilisasi. Yang kita inginkan adalah  nak yang imun: anak yang kebel dari penyakit, walau disekitarnya banyak penyakit. Anak yang disterilisasi dari "penyakit" justru akan mudah terkena penyakit. Dan Allah baru akan mengakui hambaNya beriman jika hambaNya telah melalui ujian iman.

sumber: www.facebook.com/adriano.rusfi
http://mediadidik.blogspot.com/2014/09/fase-tadrib-pelatihan-dan-fase-taklif.html

Senin, 07 Juli 2014

Nafsu Tersembunyi



Beberapa pakar sejarah islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.
Menuturkan lembaran episode hidupnya, Ahmad bin Miskin bercerita:
Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah.Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari hari kami.

Maka aku berazam untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan jalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku. Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata:
"berikan makanan ini kepada keluargamu."

Ditengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita faqir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:
"Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan"

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dalam khayalan ukhrowi, seolah olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang
ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.
Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada ditanganku. "Ambillah, beri dia makan.", kataku pada si ibu.
Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeser pun dinar atau dirham kumiliki. Sementara dirumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.
Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecil pun tersenyum indah bak purnama. Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus
bergelayutan dipikiranku. Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah.

Dalam posisi seperti itu, tiba tiba Abu Nashr terbang kegirangan mendatangiku.
"Hei, Abu Muhammad! Kenapa kau duduk duduk disini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?", tanyanya.
"Subhanallah....!", jawabku kaget. "Dari mana datangnya?"
"Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun duyun angkutan barang penuh berisi harta.", ujarnya.
"Terus?", tanyaku keheranan.
"Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut.
Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Disana, kondisi ekonominya berangsur angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan.
Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya."
Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :
"Kalimat puji dan syukur kepada-Nya berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukurku, segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup merekaseumur hidup. Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan
dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang. Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan.
Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang salih.
Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat.
Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain. Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa dosa itu masing masing dipunggungnya.
Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa dosa dan hal hal yang
menghinakan.
Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal. Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sedangkan amal baikku di daun timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku. Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal
baik yang pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya, ternyta dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah Riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal salih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata
tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu.
Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.
Tiba tiba, aku mendengar suara, "masihkah orang
ini punya amal baik?"
"Masih", jawab seseorang. "Masih tersisa ini."
Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.
Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.
Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar =+/- 425 gram emas), dan itu tidak berguna sedikit
pun. Aku merasa benar benar tertipu habis habisan.
Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku.
Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.
Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.
Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar
seseorang berkata, "Orang ini telah selamat."

Kamis, 15 Mei 2014

Pintu Keluar dari Masalah

Pintu Keluar dari Masalah

Salah seorang raja menjatuhkan hukuman mati terhadap
seorang tukang kayu yang tidak jelas kesalahannya apa.
Berita tentang keputusan itu bocor kepada si tukang
kayu sebelum pengumuman resmi keluar. Akibatnya ia
tidak bisa memejamkan mata untuk tidur di malam itu.
Istrinya menasehati:

"Tidurlah di malam ini seperti
malam-malam sebelumnya. Tuhan itu hanya satu,
sementara pintu keluar dari suatu masalah sangat
banyak".

Kalimat yang menentramkan itu tepat masuk ke dalam
hatinya, hingga ia bisa menenangkan diri, dan ia pun
bisa tidur di malam itu. Dia baru terbangun di pagi hari
ketika pintu rumahnya diketuk oleh beberapa orang
prajurit.

Wajahnya langsung menjadi pucat. Dia melihat kepada
istrinya dengan pandangan putus asa, menyesal, dan
sedih karena telah mempercayai kata-katanya semalam.
Dia membuka pintu dengan kedua tangan menggigil. Dia
ulurkan tangannya ke arah pengawal supaya diikat.
Para pengawal yang datang itu berkata kepadanya penuh
keheranan:

"Raja sudah wafat, kami meminta kamu
untuk membuatkan sebuah peti mati untuk baginda".

Waktu itu juga wajahnya berubah menjadi ceria.
Kemudian ia melemparkan pandangan tanda mohon
maaf ke arah istrinya.

Istrinya tersenyum.
Karena itu kadangkala seorang hamba sampai letih
karena berfikir, sementara Allah yang memiliki semua
rencana dan aturan.

Siapa yang merasa hebat karena jabatan, hendaklah ia
mengingat Fir'aun.

Siapa yang merasa hebat karena harta, hendaklah ia
mengingat Qarun.

Siapa yang merasa hebat karena keturunan, hendaklah ia
mengingat Abu Lahab.

Kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan hanya milik Allah
satu-satunya.
Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia
cabut dari siapa yang Dia kehendaki juga.
Jangan hukum masa depanmu dengan kondisi hari ini,
Allah Maha Kuasa merubahnya dalam waktu sekejap.
Tugas kita hanya berusaha dan terus berdo'a.

:: Zulfi Akmal ::

Senin, 07 April 2014

HUTANG ITU SEMU

Tidak patut bagi seorang muslim untuk meremehkan urusan utang atau mengecilkan perkaranya atau lalai dalam melunasinya. jiwa seorang muslim tertahan oleh utangnya hingga dilunasi.

“Jiwa seorang muslim tergantung selama ada utangnya.” [Musnad Ahmad 2/440, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no 1811]

===

SEMU LAGI: Setelah saya timbang2 ada baiknya berbagi kisah teman saya ini semoga bisa menjadi renungan bersama.
Saya punya seorang teman pebisnis juga. Omzet usahanya besar, senilai hampir 2M tiap bulannya. Rumahnya megah, mobilnya banyak. Ada sekitar 4 mobil pribadi berjejer digarasi dan jalan depan rumahnya. Namun saat ini beliau sedang pailit/ bangkrut, semoga Allah menolongnya.
Beliau banyak bercerita kepada saya tentang penyebab kebangkrutannya. Jadi salah satu penyakit bagi pengusaha adalah ketika dia tidak bisa mengontrol dirinya untuk mengendalikan keinginan2nya. Sederhananya gini, ketika saat ini dihitung2 bisnis menghasilkan margin/keuntungan 30juta/bulan maka otak akan berfikir, apa susahnya kredit mobil ansuran 7juta/bulan. Beli rumah 10juta/bulan. Beli mobil lagi 5juta/bulan. Kemudian beli perabot ini dan itu dengan kredit 2juta/bulan. Kan cuma 24juta, masih nutup kok hitungannya. Begitu logika sederhananya.
Namun apakah bisnis itu selalu lancar? Okelah anggap aja kredit itu sampai 2 tahun, apakah selama itu ada jaminan bisnis itu selalu lancar?. Bagaimana jika ditengah jalan ada masalah? Sedangkan beban kredit itu stabil dan harus dipenuhi?
Teman sy ini punya tanggungan kredit 60juta/bulan. Suatu ketika ada trouble dalam bisnis, awalnya cash flow mulai ga imbang yg membuat dia kesulitan memutar uang, padahal harus mikir bayar cicilan. Kemudian akhirnya hutang di Bank dengan jaminan, yg sebenarnya malah menambah beban kreditnya. Dan ternyata berjalan beberapa waktu, dana talangan dari bank tidak cukub menopang cashflow dan terutama beban kreditnya. Disuatu titik, bisnisnya benar2 ga bisa bergerak, dan sekali lagi harus tetap bayar beban kredit sebesar itu. Mulailah menjual aset untuk membayar beban kredit. Masalahnya berapa lama cara ini bisa bertahan? Akhirnya aset2 itu satu persatu dijual. Dan akhirnya bisa ditebak dengan mudah apa yg terjadi.
Ini bukan hanya masalah kredit barang konsumsi, ambisi dan nafsu yg tak terkendali apalagi ketika melihat bisnis lagi bagus2nya akan mendorong kita untuk berinvestasi walau dengan cara hutang bank. Kontrol seakan hilang melihat sesuatu yg sangat menggiurkan di depan. Tahun 2006 saya memiliki 1 truk, dan ketika bisnis berkembang waktu itu (merambah bidang tambang batubara karungan) saya berani kredit 4 truk, 2 pickup dan 1 mobil pribadi. Ketika bisnis jalan sih tidak ada masalah...sampai akhirnya ditengah jalan (sebelum kredit lunas), ada masalah dalam bisnis saya. Dan setelah itu apa yg terjadi dengan teman saya juga terjadi pada saya. Ludes...orang jawa bilang "ambyar". Mulai dari mobil, tanah,dll
Alhamdulillah, awal tahun 2012 saya banting setir ke bisnis buah2an dan sayur, dan dengan bantuan beberapa teman saya, saya perlahan mulai bangkit kembali, back in business....walau dalam kondisi yg masih tertatih. sy bersyukur bisa punya pengalaman berharga ini, semoga dapat jadi pelajaran bagi semua.
Bahwa hutang itu semu...

Selasa, 18 Februari 2014

SUNNAH YANG SERING DILALAIKAN SUAMI:"BERCENGKERAMA DENGAN ISTRINYA DI MALAM HARI SEBELUM TIDUR"

SUNNAH YANG SERING DILALAIKAN SUAMI:"BERCENGKERAMA DENGAN ISTRINYA DI MALAM HARI SEBELUM TIDUR"

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercengkrama bersama istrinya sebelum tidur

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuﺑِﺖُّ ﻋِﻨْﺪَ ﺧَﺎﻟَﺘِﻲ ﻣَﻴْﻤُﻮْﻧَﺔَ ﻓَﺘَﺤَﺪَّﺙَ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣَﻊَ ﺃَﻫْﻠِﻪِ ﺳَﺎﻋَﺔً ﺛُﻢَّ ﺭَﻗَﺪَ“Aku menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan istrinya (Maimunah) beberapa lama kemudian beliau tidur”. ( HR Al- Bukhari IV/1665 no 4293, VI/2712 no 7014 dan Muslim I/530 no 763)

Hukum asal berbincang-bincang setelah sholat isya’ adalah dibenci, Sebagaimana dalam hadits Abu Barzah Al-Aslami dimana beliau berkata,ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﻗَﺒْﻠَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚَ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum isya’ dan Berbincang-bincang setelahnya” (HR Al-Bukhari I/201 no 522, I/208 no 543 dan Muslim I/447 no 647)

Namun jika karena ada kepentingan yang berkaitan dengan agama seperti membahas kepentingan yang berkaitan dengan kaum muslimin maka dibolehkan atau untuk menuntut ilmu maka dibolehkan. Dan diantara perbincangan yang boleh dilakukan setelah isya’ adalah perbincangan antara suami dan istri sebelum tidur sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan istrinya.

Sunnah ini telah dilalaikan oleh banyak pasangan suami istri, terutama jika keduanya telah sibuk di siang hari maka waktu di malam hari digunakan langsung untuk istirahat tanpa ada perbincangan antara mereka berdua.Terkadang karena saking sibuknya tidak ada waktu bagi sang suami untuk berbincang-bincang dengan istrinya yang terkadang telah lama menanti kedatangan suaminya yang sibuk bekerja di siang hari, ia ingin menikmati suara suaminya..ingin menikmati gurauan dan canda suaminya sebelum tidur…, atau ia ingin menyampaikan unek-uneknya…?? !!Bukankah istri merupakan orang yang terdekat dengannya…??, bukankah istri merupakan pakaian yang dipakainya…???

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirmanﻫُﻦَّ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻟِﺒَﺎﺱٌ ﻟَّﻬُﻦَّ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ : 187 )Mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. 2:187)

Sesungguhnya sunnah yang kelihatannya sepele ini namun jika diterapkan maka akan semakin tumbuh benih kasih sayang antara dua sejoli.

Quoted: Ust Abu Abdil Muhsin Firanda Hafidzahullah

Senin, 17 Februari 2014

Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik sikapnya kepada istrinya

  andai aku tidak menikah dengannya

Sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik sikapnya kepada istrinya

Pernikahan adalah suatu perjanjian yang besar, suatu pertanggungjawaban yang berat bagi seorang laki-laki, yang mana dia mengambil seorang wanita dari kedua orangtuanya untuk hidup bersamanya dalam sebuah bahtera yang bernama rumah tangga yang dipimpin olehnya.Istri adalah suatu amanat bagi suami. Suami karena menjadi qowwam (pemimpin) bagi wanita.

Pemimpin (qowwam) ini harus memenuhi 3 fungsi, yaitu:
1) - Mengarahkan istrinya;
2) - Mengayomi istrinya;
3) - Melindungi istrinya.

Suatu penikahan yang merupakan suatu ibadah itu kuat sekali digoda oleh syaitan agar rumah tangganya karam.

Oleh karena itu, sangat-sangat penting bagi seorang suami untuk memahami tabiat wanita. Karena wanita itu bukan diciptakan dari baja yang bisa meleleh, bukan pula dari batu yang bisa hancur berkeping-keping jadi kerikil, tetapi wanita diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok, yang jika diubah akan patah, namun jika tidak diubah akan tetap bengkok, oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam- pun tidak menyuruh lelaki untuk mengubahnya, Namun Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat: "Jagalah wanita-wanita itu..! Pelan-pelan dan berlemah lembutlah pada wanita!Sehingga setelah memahami tabiatnya, kemudian memperlakukannya denganma'ruf, dengan sebaik-baiknya,

seperti firman Allah:"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karenamungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An-Nisaa(4): 19]

Pada saat seorang suami mendapati hal yang tidak disukainya dari seorang istri,maka harus bersabar, dan berpikir baik-baik tentang firman Allah yang menyatakan, bahwa boleh jadi dalam keburukan istri kita itu terdapat kebaikan-kebaikan lainnya yang banyak.Jangan sampai keburukan akhlak dari suami menyampaikan sang istri pada satu situasi dimana ia sangat menyesal dan berkata: "Andai aku tak menikah dengannya.."

.Padahal suatu pengandaian itu hanya akan membuka pintu syaithan.

Tabiat-tabiat Wanita diantaranya adalah:

1) - Pencemburu.Baik kepada ibu sang suami, saudara/saudari sang suami, wanita-wanita lain,dll.

2) - Perasa.Perasaannya melebihi akalnya sehingga kadang-kadang mudah marah.

3) - Suka Perhiasan.

4) - Istri membutuhkan pujian/sanjungan dari suami. Hargai pendapatnya, jangan egois.

5) - Sempatkan waktu untuk bermain-main dengan istri.Suami berhias atau bersolek untuk istri.

6) - Memberi istri hadiah.

7) - Main tarik ulur.Bersabar, jangan tergesa-gesa!

Setelah istri menunaikan kewajiban, penuhilah hak-haknya, karena kalau tidak, dia akan mencari haknya ditempat lain.Istri itu seperti wadah yang akan kekeringan, jika tidak terus diisi air.

Karena, jika ia kekeringan, ia akan mencari di tempat lain yang bisa menghapus dahaganya. Ia akan mencari tempat curhat lain selain suami.

Firman Allah:"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kau terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. At-Taghabun (64): 14]

Merupakan nasihat bagi suami, apabila ada masalah dengan istri, maka:
1) - Maafkan dia (tidak memberikan sanksi atas kesalahan);
2) - Tidak menjelek-jelekkan dengan perkataan;
3) - Lupakan dan buka lembaran baru;
4) - Seorang wanita menikah untuk mendapatkan kebahagiaan, sakinah,ketenangan, bukan hanya kebutuhan biologis, bukan pula hanya uang.Hidup ini sangat singkat, jangan sampai di akhirat datang dengan keadaan tulang rusuk yang terjatuh.

Wasiat untuk suami dan istri:"Jadilah manusia terbaik! Dimana manusia yang terbaik adalah yang terbaik kepada istri dan keluarganya.."

Wasiat untuk istri:"Jadilah wanita yang terbaik! Yang bila dipandang menyenangkan dan biladitinggalkan menjaga kehormatan dan harta suami. Suami adalah Surga dan Neraka kita.
.

"Syarat kriteria seorang lelaki yang baik untuk dipilih ~menurut Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam~ untuk menjadi suami ada 2, yaitu: Agamanya dan Akhlaqnya. Tidak hanya salahsatunya, namun harus keduanya.| Wallahu'alam.|

Semoga yang sederhana ini bermanfaat untukku dan untukmu (saudara-saudaraku seiman)..

| Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
via Abu Layla Supry

Selasa, 11 Februari 2014

jahitan

INI TULISAN JADI DRAFT BERTAHUN TAHUN
gak pernah di publish, karena merasa belum bikin ending yang bagus
lama2 tak pikir, publish sajalah. endingnya nyusul
wekekekekekeke... toh sampai sekarang. ceritanya belum berakhir
banyak kisah yg terjadi. & belum tertuliskan

====

dulu ketika penjahit msh 2 orang. semua dikerjain sendiri, beli kain, benang, segala tetek bengeknya. sehari bs muter 2x. ada aja yg kelupaan. keliling mataram, dari satu toko k toko yg lain. soalnya sy yg sarjana arsitektur ini nol putul ttg jahitan. pun, pendatang di mataram. lengkaplah sudah butanya. tidak tahu, mana toko yg jualan kain paling murah. pokoknya semua toko yang memajang kain, HARUS didatangi. ditanyain.
begitupula dengan toko yang jual peralatan jahit.

bermodal bismillah, dengan bersepa motor, menembus hujan, dengan bangkelan segunung di jok belakang, berdoa semoga gak ada yg jatuh sampai d rumah.
suami tahu? jelas tidak. wong saya belanja sendiri. suami ngantor
saya cm bisa desain, jahit g bisa. browsing sana sini, cari tips menjahit. beli buku sana sini. mencari ide sana sini.

alhamdulillah, setahun sudah, sekarang punya workshop sendiri. setelah sebelumnya menjahit d garasi rumah, kemudian merangsek ke ruang tamu, ruang keluarga, & kamar cadangan.
bayangkan betapa sumpeknya rumah saya. isinya cuma kain, kain, kain, kain, mesin jahit, mesin jahit, mesin jahit =p

agen datang pergi silih berganti, saya tak ambil pusing. saya harus fokus di desain, produksi, berusaha agar produk semakin baik