| Persiapan setelah melahirkan
Persiapan ketika sudah kembali bekerja
Ketika berada di kantor:
http://aimi-asi.org/2010/10/orang-tua-bekerja-pun-bisa-sukses-memberi-asi-eksklusif/ |
wanita biasa, yg ingin bahagia | Cuma kumpulan kopi paste, mengikat ilmu, kalo lupa tinggal nyari =)
Minggu, 29 Mei 2011
manajemen asi perah u ibu pekerja
cara pemberian asi perah SELAIN dot
Bayi = Botol dan Dot? Benarkah?oleh Kiki Setiawan on October 5th, 2010 Siapa diantara kita yang setuju, bahwa rata-rata ibu membeli botol dan dot dalam mempersiapkan kehadiran bayi mungilnya. Hal yang sama juga terjadi pada saya ketika mempersiapkan kelahiran anak pertama 6 tahun silam. Dalam bayangan saya yang namanya bayi ya minum susunya (baik susu formula ataupun ASI Perah) adalah melalui botol dan dot. Belum lagi tawaran dan iklan menarik mengenai puting dot yang dibuat semirip dengan puting ibu ataupun iklan yang mengatakan botol ini anti kolik dan tidak membuat bayi kembung. 6 tahun silam saya belum banyak tahu tentang pemberian susu melalui media lain selain botol dan dot. Sekarang, selain mulai banyak belajar saya juga menerapkan hal ini pada anak kedua saya dan ternyata berhasil, tidak sesulit yang saya bayangkan. Ini semakin membuat saya yakin untuk bisa membagikan pengalaman saya disini, karena sulit bagi saya untuk membagi sesuatu yang tidak saya yakini. Banyak ibu yang bertanya pada saya, ”Apa sih keuntungannya memberikan ASIP melalui media selain botol dan dot?”. Biasanya, saya lalu mencoba menjawab seperti ini:
Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, ”lalu, bagaimana memberikan ASI Perah pada bayi jika penggunaan botol dan dot dapat menimbulkan banyak risiko?” Banyak ibu yang belum mengetahui, bahwa pemberian ASI Perah dapat menggunakan beberapa media, seperti: gelas sloki, sendok, pipet, spuit dan softcup feeder. Seperti apa media pemberian ASI dan bagaimana cara menjelaskannya, yuk, kita baca bersama sharing saya di bawah ini:
Yang perlu diingat ketika memberikan ASI Perah melalui media-media ini adalah:
|
Jumat, 27 Mei 2011
MASIH MENYUSUI TAPI HAMIL LAGI
Dewi Handajani
Konsultasi ilmiah: dr. Rulina Suradi, Sp.A(K), IBCLC, Bagian Ilmu
Kesehatan Anak, FKUI, RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Kehamilan bisa saja terjadi pada saat Anda masih aktif menyusui si kecil.
Apa yang sebaiknya Anda lakukan bila mengalaminya?
Umumnya, tubuh ibu sudah mampu menghasilkan sel telur kembali yang siap dibuahi, ketika bayinya telah berusia 6 bulan. Itu sebabnya, bukan tidak Mungkin bila Anda ternyata sudah hamil lagi sementara si kecil masih membutuhkan ASI Anda. Apakah si kecil tetap Anda beri ASI, atau ia Anda sapih demi kepentingan adiknya?
Bukan alasan segera menyapih
Mungkin, setelah mengetahui bahwa Anda positif hamil lagi, timbul rasa bingung pada diri Anda. Di satu pihak, Anda masih menikmati menyusui si kecil. Di pihak lain, dengan melanjutkan memberikan ASI kepadanya, Anda merasa telah ?mengambil? porsi zat gizi yang seharusnya diberikan pada jabang bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim Anda. Itu sebabnya, adanya kehamilan baru biasanya menjadi alasan untuk mulai menyapih si kakak.
Padahal, bila Anda ingin terus menyusui, Anda sebenarnya tidak sendiri. Hilary Dervin Flower, MA dalam artikelnya ?A New Look at the Safety of Breastfeeding During Pregnancy? yang dimuat dalam situs www.kellymom.com edisi bulan September 2003, mengatakan bahwa dari suatu penelitian terhadap 179 orang ibu yang menyusui sedikitnya selama 6 bulan, 61% di antaranya tetap menyusui saat mengetahui dirinya hamil lagi, dan 38% dari jumlah itu terus menyusui sampai si bayi lahir dan disusui bersama-sama kakaknya (tandem nursing). Hal ini ternyata juga dapat mempermudah sang kakak menyesuaikan diri atau berbagi dengan adik barunya.
Jadi, jika usia bayi Anda masih di bawah satu tahun, apalagi bila dia masih berusia di bawah 6 bulan dan masih menyusu sementara Anda hamil lagi, selama Anda tidak mengalami kelelahan atau tidak merasakan kontraksi rahim, maka Anda tetap dianjurkan untuk terus menyusuinya. American Academy of Pediatrics merekomendasikan seorang anak disusui minimum selama satu tahun, sedangkan WHO menyebutkan hal itu sebaiknya dilakukan selama dua tahun atau lebih.
Tidak jarang, tanpa Anda lakukan apa-apa, si kakak sudah mulai ?tidak menyukai? kegiatan menyusu lagi. Mungkin, karena pada kondisi hamil, rasa ASI Anda berubah dan jumlahnya pun mulai berkurang. Keadaan yang terjadi pada ASI Anda tersebut akan membuatnya mengurangi kegiatan menyusu secara bertahap.
Waspada bila....
Telah disebutkan bahwa kelelahan merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan oleh ibu hamil yang masih ingin menyusui bayinya. Karena, kelelahan dapat mengindikasikan bahwa ibu hamil yang bersangkutan terganggu kesehatannya. Perlu diketahui, secara alami tubuh Anda akan memprioritaskan pemberian zat gizi kepada janin yang sedang tumbuh tanpa mengurangi porsi yang disalurkan untuk membentuk ASI. Itu sebabnya, bila kesehatan ibu tidak optimal, maka selain kondisi fisik ibu, proses tumbuh kembang janin dan bayi juga akan terganggu.
Sehubungan dengan hal itu, bila Anda ingin tetap menyusui si kecil, Anda harus selalu berupaya untuk menjaga kondisi dan kesehatan tubuh Anda selama hamil. Berilah perhatian yang lebih baik pada pola makan Anda, baik kulitas maupun kuantitasnya Selain itu, penuhilah kebutuhan tubuh akan cairan dan cukup istirahat.
Faktor lain yang juga menentukan apakah Anda dapat tetap menyusui atau tidak, adalah ada atau tidaknya kontraksi atau tanda-tanda persalinan dini lainnya. Perlu diketahui, kontraksi rahim yang terjadi biasanya ditimbulkan oleh rangsangan isapan pada payudara yang menyebabkan kelenjar hipofisis melepaskan oksitosin (hormon yang selain merangsang refleks pengaliran ASI juga dapat mempercepat kelahiran).
Jadi, Anda sebaiknya berhenti menyusui bila ada kontraksi rahim, timbul rasa nyeri di pinggang bagian bawah, terasa ada tekanan di bagian dasar panggul, timbul kram, dan keluar lendir, darah atau air ketuban. Baringkanlah tubuh Anda, lalu hubungi dokter kandungan Anda secepatnya untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.
Pada dasarnya, selama kehamilan Anda sehat, Anda tidak perlu takut untuk tetap menyusui si kecil. Beberapa penelitian terbaru juga menyimpulkan bahwa tidak ada teori yang melatarbelakangi anggapan bahwa menyusui dapat memicu terjadinya keguguran atau persalinan sebelum waktunya bila kehamilan ibu yang bersangkutan sehat. Di lain pihak, rahim juga memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk mencegah efek dari hormon oksitosin yang dilepaskan selama berlangsungnya kegiatan menyusui.
Jadi, saat akan memutuskan apakah ia akan menyusui atau tidak saat dirinya hamil lagi, setiap ibu harus mempertimbangkan pilihannya, perasaannya, dan apa yang terjadi pada tubuhnya dengan baik. Dengan demikian, ia akan puas dan percaya bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik bagi diri dan keluarganya.
A Doctor's Journal : Mengapa Tidak Mau Memberikan Imunisasi?
Baiklah kawan, saya coba memberikan pendapat saya. Sebuah buku yang (ternyata) ditulis oleh seorang dokter (si penulis tidak menyebutkan dengan tegas bahwa ia dokter, setelah menelusuri profilnya di internet baru saya tahu) memberikan keterangan seperti ini: “Vaksinasi bisa menghancurkan sistem kekebalan tubuh kita.Paraahli klinis yang meneliti penyakit sebelum dan sesudah vaksinasi menyimpulkan bahwa vaksin dapat melemahkan sistem imun. Akibat buruk suntikan vaksin bisa terus berlanjut. Dalam kasus-kasus tertentu yang buruk, suntikan vaksin itu malah bisa membunuh orang yang diberi suntikan. Beberapa ahli juga mengatakan kalau vaksin justru melemahkan upaya tubuh untuk bereaksi secara normal terhadap penyakit. Bahkan, ia berpotensi juga memunculkan penyakit autoimun. Terdapat beberapa penyakit autoimun, di antaranya: sindrom Guillain Barre, trombositopenia, dan artritis.” Padahal beberapa halaman sebelumnya penulis menyebutkan, “sistem imun adalah upaya silaturahmi yang bertugas untuk mengembangkan suatu pola interaksi yang sehat. Hal ini dapat diamati pada proses vaksinasi, yaitu pada saat sebagian eleman mikroba patogen (penyebab penyakit) yang telah dilemahkan atau bagian yang tidak berbahaya diperkenalkan ke dalam tubuh sebagai faktor “pengingat” bagi sistem imun”. Pernyataannya kontradiktif, di bagian akhir buku penulis mengajak pembaca untuk tidak memberikan imunisasi, tetapi di halaman pembuka, ia menjelaskan imunisasi memberikan pola interaksi yang sehat dalam tubuh.Anyway, saya setuju dengan 90% isi bukunya, hanya statement tentang imunisasi dan beberapa hal kecil lain saja yang saya tidak sepakat.Juga hal-hal yang disebut di atas seperti Guillain Barre syndrome, trombositopenia, dan artritis, disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau post vaccination adverse event, yang relatif jarang terjadi, jarang sekali yang fatal, dan dijelaskan oleh dokter sebelum tindakan imunisasi dilakukan, sehingga mendapat persetujuan tindakan dari orangtua.
Bukan hal baru bagi dokter dan pasien, bahwa sebagian dokter tidak mau memberikan imunisasi bagi pasien-pasiennya.Adayang tidak mau memberikan vaksin jenis tertentu saja, ada yang menunda memberikan vaksin tertentu sampai umur lewat dari usia yang direkomendasikan, dan ada yang tidak mau memberikan semua jenis vaksin. Padahal jelas sekali, di seluruh dunia vaksinasi/imunisasi telah terbukti mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi tertentu. Sebut saja cacar (variola, bukan cacar air atau varisela) yang telah musnah dari permukaan bumi sejak tahun 1970-an, padahal sebelumnya penyakit ini telah merenggut jutaan nyawa. Sebut lagi penyakit infeksi lain seperti cacar (measles) yang memiliki komplikasi meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang jaringan paru) yang mematikan. Juga ada difteri, pertusis, tetanus, polio, dan lain-lain—name itdeh, semua vaksin yang ada—yang membuat kita hampir tidak pernah menemui kasus ini di keseharian. Padahal beberapa dekade silam ketakutan besar menimpa orangtua yang khawatir anaknya terkena penyakit-penyakit ini. Lalu mengapa dokter tidak memberikan?
Ada beberapa alasan dalam analisis pribadi saya. Pertama, sebuah isu massal menyebutkan bahwa vaksinasi adalah konspirasi Yahudi melemahkan daya tahan anak-anak berbagai umat. Toh sudah diberi vaksinasi campak, cacar air, BCG, masih bisa juga terkena campak, cacar air, dan tuberkulosis! Ya, tidak ada satupun vaksin memiliki efek protektif mencapai 100%. Semua dokter yang lulus dari fakultas kedokteran negeri ini juga tahu. Sebagai contoh, vaksinasi BCG memiliki efektivitas perlindungan terhadap TBC sebanyak 0 sampai 80%. Artinya, anak yang sudah diimunisasi BCG sangat mungkin terinfeksi TBC dan menjadi sakit di negara endemik TBC ini. Tetapi, BCG terbukti sangat efektif mencegah komplikasi TBC seperti TB milier dan meningitis TB. Vaksin-vaksin lain seperti DPT, Hepatitis B, campak, dsb memiliki angka efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan BCG. Bayangkan saja kalau tidak ada vaksinasi campak. Padahal Depkes mencatat 30 ribu anakIndonesiameninggal per tahunnya akibat komplikasi campak (pneumonia, meningitis). Sampai-sampai diadakan PIN Campak bulan Februari tahun lalu diJakarta. Vaksinasi campak jauh mengurangi angka kesakitan dan kematian ini.
Banyak orangtua juga membuktikan anak-anak mereka tidak ada satupun yang sakit-sakitan, dan selalu sehat, padahal tidak ada yang diimunisasi barang seorang pun. Hal ini tentunya sangat mungkin. Dalam konsep epidemiologi klinik, satu anak yang tidak diimunisasi polio misalnya, tapi ia adalahcarrier(pembawa) virus polio, dapat menginfeksi seluruh anak lain yang berada di lingkungannya yang tidak mendapatkan imunisasi polio. Ini adalah hipotesis terjadinya heboh polio di Sukabumi tahun 2003 silam. Makanya seluruh anak dalam satu komunitas harus divaksinasi, tanpa kecuali.
Alasan kedua, di dalam vaksin juga disinyalir terdapat zat-zat haram, seperti babi, janin manusia yang diaborsi, dll. Selengkapnya bisa melihat ke www.halal-guide.com
Saya coba menyalin kandungan vaksin yang saya ambil dari kemasannya langsung. Ini daftarnya, sesuai merek dagang (beda pabrik bisa beda pengawet):
Infanrix-Hib (GSK), yaitu vaksinDaPT-Hibdalam satu sediaan (kombo), atau Tetract-Hib (DPT-Hib): isinya toksoid difteri, toksoid tetanus, dan tiga antigen pertusis yang dimurnikan dalam garam aluminium. Juga mengandung polisakarida kapsuler polyribosylribitol-fosfat (PRP) dari Hib. Toksin D dan T diperoleh dari kultur bakteri yang didetoksifikasi dan dimurnikan. Komponen seluler/aseluler P juga diperoleh dari bakteri B. pertusis. Kemudian semuanya diformulasikan dalam garam fisiologis, dan diawetkan dengan 2-fenoksietanol (alkohol).
Act-Hib (Aventis), isinyaHibsaja: mengandung polisakarida Hib yang terkonjugasi dengan protein tetanus, dan pengawet Trometamol dan Sukrosa, dilarutkan dengan Natrium klorida.
Varilrix (GSK), yaitu vaksinvarisela/cacar air: virus varisela-zoster strainOKAhidup yang dilemahkan, dikultur dalam sel diploid manusia MRC5.
Engerix-B (GSK), yaitu vaksinhepatitis B: antigen permukaan virus yang dimurnikan diolah dengan teknik DNA rekombinan, dimasukkan dalam aluminium hidroksida. Antigen dihasilkan melalui kultur sel kapang/yeast (Saccharomyces cerevisiae). Tidak ada satupun sel manusia hidup yang digunakan dalam pembuatannya.
MMR-II (MSD), yaitu vaksin komboMMR: virus campak hidup yang dilemahkan dikultur dalam sel embrio ayam; virus mumps hidup juga dikultur dalam embrio ayam; virus rubella hidup dikultur dalam sel diploid manusia. Tidak mengandung pengawet.
Havrix 720 (GSK), yaitu vaksinhepatitis Amati yang diawetkan dengan formalin, dimasukkan dalam aluminium hidroksida, dan dipropagasi dalam sel diploid manusia.
Typhim Vi, yaitu vaksintifoid, dari polisakarida S. Typhi, diawetkan dengan fenol dan larutan buffer yang mengandung NaCl, disodium fosfat, monosodium fosfat, dan air.
Saya masih belum bisa mendapatkan daftar isi kemasan produk Biofarma seperti BCG, Hepatitis B, polio, DPT, dan campak. Mudah-mudahan segera bisa dilengkapi.
Kira-kira komponen mana dari zat-zat di atas yang berpotensi membahayakan tubuh dan mengandung bahan haram? Saya belum menemukan bukti sahih. Semua obat yang diproses secara kimia di pabrik seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama halnya dengan kepedulian terhadap imunisasi ini.Memang negara kita sangat bermasalah dalam status kehalalan obat-obatan dan kosmetika. Andaikan saja bisa mencontoh Malaysia, yang berusaha memproduksi sendiri vaksin halal. Maka saat ini, saya merujuk pada keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di sini (terlalu panjang jika disalin ulang):
http://www.halalguide.info/content/view/120/397/ atau http://www.halalguide.info/content/view/120/55/
Analoginya bisa dipakai untuk seluruh jenis vaksin lain (BTW, vaksin IPV yang disebut dalam fatwa ini tidak digunakan secara luas di Indonesia, yang digunakan adalah OPV). Lebih lengkap lagi tentang imunisasi juga bisa dilihat di blog Bu Lita di http://lita.inirumahku.com/
Surat pembaca saya tentang kontroversi halal imunisasi ini pernah dimuat Majalah Hidayatullah edisi November 2007. Sayangnya tidak ada soft copy-nya di web, dan belum saya salin ulang.
Pro dan kontra terhadap imunisasi atau vaksinasi tidak akan pernah berakhir. Saya bersyukur ada komunitas seperti milis SEHAT (http://groups.yahoo.com/group/sehat) yang selalu mendiskusikan dan memberikan informasi terkini tentang imunisasi dan kesehatan secara umum yang sahih (tidak semua informasi kesehatan di internet terbukti sahih secara evidence based medicine). Silakan juga buka www.sehatgroup.web.id
Sekian dulu. Wallahu a’lam.
http://arifianto.blogspot.com/2008/01/mengapa-tidak-mau-memberikan-imunisasi.html
IMUNISASI NGGAK YAAA...? -oleh umm hamzah-
Bism Allah ar Rahmaan ar Rahiim,
Beberapa minggu terakhir berseliweran beberapa catatan tentang imunisasi. Ada yang judulnya cukup seram, sampai menyebut-nyebut konspirasi. Dinyatakan dalam catatan tersebut bahwa imunisasi adalah salah satu program jangka panjang salah satu kaum (non-muslim yang jelas) untuk memusnahkan umat muslim, membuat mereka bodoh, sakit-sakitan, menjadi budak iblis dan yang terakhir, mengakali umat muslim agar do'anya tertolak (untuk tuduhan terakhir ini, saya jadi geli sendiri. Kalaupun seorang muslim terpedaya katakanlah untuk mengimunisasi anak atau dirinya dengan vaksin haram, apa iya Allah sebodoh itu ikut-ikutan menolak do'anya? Yang benar saja...:) Astaghfirullah...benar-benar perendahan terhadap keagungan Allah)
Imunisasi sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun. Suka atau tidak, sejarah membuktikan bahwa penyakit-penyakit yang pernah mewabah di seluruh dunia dan memakan korban baik cacat permanen maupun meninggal setelah melalui perjuangan panjang saat ini berhasil ditaklukkan atau setidaknya dijinakkan penyebarannya. Bahwa ada kegagalan imunisasi di sana sini, itu tidak menjadikan kita lantas boleh menutup mata terhadap keberhasilan upaya menekan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit-penyakit yang disediakan vaksinnya.
Faktanya, angka perbandingan antara yang gagal dan yang berhasil masih sangat jauh. Kasus jama'ah haji yang sakit setelah diimunisasi misalnya, sangat kecil dibanding jutaan lain yang berangkat dan pulang dalam keadaan sehat. Pun pada kasus-kasus kegagalan imunisasi atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) bisa ditelusuri sebab kegagalannya dan sebab kegagalan tersebut bukanlah si vaksin itu sendiri, melainan ada faktor-faktor seperti kekeliruan cara penyimpanan vaksin, kekeliruan prosedur pemberian vaksin dan reaksi alergik langka yang hanya terjadi pada sebagian kecil orang dan tidak mudah dideteksi dengan cara-cara pemeriksaan sederhana. Itu sebabnya pemerintah Amerika Serikat memberi semacam perlindungan kekebalan hukum bagi tenaga kesehatan bilamana terjadi kasus kesakitan, kecacatan atau meninggal akibat reaksi alergi langka seperti ini.
Lalu apa betul imunisasi menyebabkan kebodohan?
Para pakar genetika telah membuktikan bahwa tingkat kecerdasan lebih terkait dengan pola pewarisan gen dan ketepatan cara mendidik ketimbang kerusakan akibat terpapar racun yang diduga ada dalam vaksin. Fakta menunjukkan kualitas kecerdasan generasi yang saat ini berumur 40-an tahun sama sekali tidak menurun. Kapasitas belajar anak-anak justru bertambah. Dengan kurikulum pendidikan yang begitu berat, semakin banyak anak-anak menguasai berbagai bidang ilmu di usia lebih dini dibanding generasi sebelumnya.
Imunisasi ditujukan untuk menyebabkan kemerosotan moral umat muslim?
Kita lihat saja, kemerosotan moral di negara-negara dari mana vaksin berinduk lebih cepat menukik jatuh ketimbang negara-negara dimana vaksin disebarkan. Kalau memang sasarannya adalah umat muslim, tentu fenomena kemerosotan moral akan terjadi sebaliknya.
Imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan?
Asumsi bahwa imunisasi menyebabkan penerimanya sakit-sakitan biasanya ditujukan pada anak-anak. Asumsi ini pun bisa dibantah dengan argumentasi sederhana. Pada usia dini anak-anak memang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang matang dan variatif, itu sebabnya anak-anak di usia balita lebih sering sakit dibanding orang dewasa. Tubuh mereka masih berada dalam tahap pengenalan benda asing dan membentuk zat anti. Para ahli kesehatan anak menyebutkan bahwa di usia balita, kebanyakan anak akan menderita sakit ringan (common cold dan diare) 6 kali dalam setahun.
Anak yang tidak diimunisasi lebih sehat daripada yang diimunisasi.
Untuk pernyataan ini ada baiknya si penanya sesekali menyempatkan singgah di rumah sakit terdekat. Tanyakan, berapa kasus kecacatan dan kematian akibat meningitis TBC yang terkait dengan tidak diimunisasinya korban dengan vaksin BCG. Status kesehatan umum seseorang lebih terkait dengan gaya hidup seperti kebersihan, pola makan dan pola istirahat. Jika ketiga faktor tersebut terjaga, maka kesehatan seseorang akan lebih baik dibanding yang tidak terjaga.
Imunisasi MMR menyebabkan autisme lho....
Al hamdu lillah, penelitian membuktikan bahwa autisme sudah bisa dideteksi sejak bayi masih dalam bentuk embrio. Kalau kelainan sudah ada sejak bayi masih berbentuk embrio, maka diimunisasi atau tidak, kemungkinan besar ia akan menderita autisme. Jadi asumsi bahwa MMR menyebabkan autisme pun tidak benar.
Hampir di setiap forum diskusi tentang imunisasi yang saya ikuti, selalu saja ada argumentasi bahwa anak si A atau si B tidak diimunisasi, toh sehat sehat saja. Mungkin mereka lupa, bahwa ini PUN adalah salah satu bagian dari nikmat keberhasilan imunisasi yang telah berpuluh tahun dilaksanakan di seluruh dunia : sumber penularan beberapa penyakit yang dulu mewabah global saat ini sudah sangat minim. Itu sebabnya banyak anak yang tidak diimunisasi, tetap tidak tertular. Bagaimana mau tertular? Wongsumber penularannya sudah tidak ada atau minim dan tidak adanya sumber penularan itu adalah KEBERHASILAN DARI PROGRAM IMUNISASI yang kita nikmati sekarang. Toh tidak tertutup kemungkinan ada orang-orang carrier di tengah-tengah kita yang masih mungkin menjadi sumber penularan.
Imunisasi ditujukan untuk menekan menekan populasi umat muslim dengan menyebabkan infertilitas....
Please deh...alih-alih menyusut, populasi penduduk dunia membludag nyaris tak terkendali. Kalau pun di negara-negara dari mana vaksin berasal saat ini peningkatan jumlah penduduk bisa diperlambat itu karena mereka ogah punya anak dengan pemikiran punya anak berarti tambah pengeluaran sementara biaya hidup sangat tinggi. Sedangkan di negara-negara Islam peningkatan jumlah penduduk tetap melaju karena penduduknya dengan suka cita beranak pinak.
Kalau kita mau berfikir sejenak, betapa beruntungnya pemeluk Islam. Islam tidak melarang kita memanfaatkan teknologi yang dihasilkan oleh tangan-tangan non muslim. Islam hanya memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang-orang yang memahami syari'ah ini sebelum mengambil keputusan dan segala puji hanya untuk Allah, betapa orang-orang seperti ini masih sangat banyak kita temui. Maka jika mereka mengeluarkan fatwanya, kita tinggal mematuhi sedangkan tanggung jawab tetap berada pada mereka. Mudah bukan? Mau melindungi diri dengan thibbun nabawi saja, silahkan, mau melengkapinya dengan teknologi yang dihasilkan oleh non muslim, setelah diketahui kebolehannya melalui fatwa para ulama, Islam pun tidak melarang. Sungguh nikmat menjadi seorang muslim. Nikmat dan mudah.
Sebagai penutup, saya ingin sampaikan bahwa saya tidak sedang menyuruh-nyuruh orang mengimunisasi anaknya atau tidak meyakini kehebatan thibbun nabawi. Imunisasi atau tidak adalah pilihan. Akan tetapi buatlah pilihan secara bijak, rasional dan faktual. Bagi yang memilih untuk tidak mengimunisasi anaknya dan anaknya tetap sehat, sudah itulah kehendak Allah yang patut disyukuri tanpa melecehkan mereka-mereka yang memilih untuk mengimunisasi sebagai bagian dari ikhtiar yang hasilnya pun sepenuhnya kembali pada kuasa Allah. Hilangkan kebiasaan menyebarkan sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, menutup mata bahwa apa yang kita nikmati sekarang adalah juga merupakan bagian dari keberhasilan imunisasi ~ yg lagi lagi di atas segalanya adalah juga atas kehendak Allah ~ apalagi sampai menyebarkan tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang valid.
Catatan terkait :
- Hidrosefalus akibat Imunisasi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493726037709
- Bahan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=493993642709
- Kaitan Janin Manusia dengan Vaksin : http://www.facebook.com/note.php?note_id=496772767709
- Eana al Jemberi : Imunisasi dari Segi Medis dan Syari'ah : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150093768572247
- Abu Muhammad Herman : Imunisasi dengan Enzim Babi : http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150370318990175&id=1084713685
- Dr. Arifianto : A Doctor's Journal : http://arifianto.blogspot.com/2008/01/mengapa-tidak-mau-memberikan-imunisasi.html
- Salinan Surat Pertanyaan WHO Kepada Pemuka Agama Islam di Kawasan Timur Tengah Perihal Hukum Pemakaian Bahan Haram dalam Proses Pembuatan Vaksin dan Jawaban :http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.immunize.org%2Fconcerns%2Fporcine.pdf&h=a4e65
Semoga bermanfaat.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=492834417709
Kamis, 26 Mei 2011
nyasar.....
ini nyoba mo betulin. smg nyasar k tempat yg benar =p maap, cm nyampah aja.
yukkkk..... meluncur
Selasa, 24 Mei 2011
tidur siang naufal
selalu merasa hepi tiap bacain buku untuk naufal setiap mau tidur siang. tapi, tetep... abis dibacain buku pasti rewel. krn g mau berhenti. hahahahaha..... ketagihan.
tapi, selalu aq kasih tau, klo nanti tidur. naufal bisa mimpi. siang ini, kubacain buku ensiklopedi bocah muslim ttg kendaraan. jadi, nanti naufal bisa mimpi naik pesawat. pulang ke jawa. ketemu uti, & dibelikan baju, mainan & jajan. tepok tepok dikit. merem ^^
mimpi indah ya le...., oya. baca doa dong ;)
Sabtu, 21 Mei 2011
Kamis, 19 Mei 2011
puting datar, hiv, puting infeksi. BISA MENYUSUI
selain bentuk puting tidak mempengaruhi produksi ASI, bentuk puting tidak
mempengaruhi kemampuan bayi untuk menyusu karena bayi menyusu pada areola
(bagian berwarna gelap dari payudara) sehingga tidak mempengaruhi pengeluaran
ASI. Dengan modifikasi teknik menyusui yang tepat, bayi dapat menyusu langsung
ke payudara tanpa banyak masalah.
2. Produksi ASI tidak mencukupi. ASI diproduksi berdasarkan prinsip supply and
demand, yaitu semakin sering bayi disusui dan payudara dikosongkan maka
produksi ASI semakin banyak. Semakin sering bayi mendapat tambahan susu
formula maka pengeluaran ASI semakin jarang dan menyebabkan produksi ASI
berkurang. Penggunaan dot dan botol juga menyebabkan bayi kesulitan menyusu
langsung sehingga membuat ibu merasa ASI tidak cukup dan akhirnya tidak
meneruskan pemberian ASI. Cara yang paling efektif untuk memastikan bayi sejak
awal dapat menyusu sesering mungkin pada ibunya, adalah dengan melakukan
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung 24 jam di rumah sakit.
3. Kondisi ibu dengan kandungan nutrisi serta gizi yang kurang tidak membuat kualitas ASI-nya menurun. ASI tetap memiliki kualitas yang baik. Meskipun ibu tetap
diharapkan memperbaiki status gizinya demi kesehatan ibu.
4. Infeksi pada puting bukan jadi alasan menghentikan pemberian ASI. Selama ibu
sudah mendapat pengobatan yang adekuat pemberian ASI tetap dapat diteruskan.
Kalaupun tidak memungkinkan menyusu secara langsung, ASI dapat diperah dan
diberikan kepada bayi dengan media cangkir, sendok, pipet atau spuit.
5. Sebagian besar obat yang dikonsumsi ibu bisa masuk dalam ASI, tetapi dalam dosis yang sangat rendah sehingga tidak memberi dampak pada bayi. Sedangkan obat – obatan yang tidak aman dikonsumsi ibu menyusui hanya sedikit seperti obat
antikanker yang memerlukan ibu tidak memberikan ASI selama beberapa waktu,
tetapi ibu masih tetap dapat memberikan ASI jika memerah ASI sebelum memulai
pengobatan dan kembali menyusui jika efek obat antikanker sudah hilang dari ASI.
6. Virus HIV dapat ditularkan melalui ASI. Tetapi jika ibu ingin menyusui dan sudah
mendapatkan pengobatan (Antiretroviral) ARV sejak hamil, maka ibu dapat tetap
menyusui bayinya. Apalagi jika tidak tersedia pengganti ASI yang memenuhi kriteria
AFASS (available, feasible, afordable, sustainable, safe).
Susu formula adalah produk pengganti ASI yang salah satu bahan dasarnya adalah susu sapi. Susu sapi ini kemudian diproses, diolah secara sintetis dan diformulasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisi dasar bayi. Sampai saat ini belum ada susu formula apapun yang komposisinya mendekati ASI, apalagi yang persis menyamai ASI. Segala zat yang terkandung dan ditambahkan secara artifisial pada susu formula, sudah ada secara alami dalam ASI. Paling tidak masih ada sekitar 200 jenis zat dalam ASI yang belum berhasil ditiru secara artifisial dan ditambahkan dalam susu formula. Bagaimana caranya membuat sel-sel darah putih, DNA ibu, hormon dan enzim-enzim aktif, faktor-faktor pertumbuhan secara artifisial sehingga bisa ditambahkan ke dalam susu formula? ASI adalah cairan hidup.
Kebanyakan susu bikin anak gak doyan makan. malah g sehat loh
- Demikian
kibulan pagi ini, semoga ada gunanya
- Coba
memotong dratis porsi atau bahkan menghilangkan susu bintang dari menu
wajib anak. And surprise yourself with the result!
- Kalau
punya anak yg punya beragam masalah kesehatan yg tdk terjawab (dan dokter
anak pun angkat tangan atau menambah dosis vitamin saja)
- Kalau
imbasnya adlh berkurangnya nafsu makan, jelas merupakan hal yg natural dan
tdk perlu diherankan lagi
- Dan
masuknya susu binatang tsb dlm jumlah tertentu, akan merepotkan beragam
sistem tubuh, terutama sistem pencernaan
- Dari
dua gejala sederhana itu saja sbnrnya sudah merupakan pertanda bhw secara
ilmiah, manusia tdk memerlukan susu binatang
- Sedangkan
Anticasein adalah antibody alami yg direaksikan tubuh sbg penolakan thdp
masuknya protein susu tsb
- Lactose
Intolerant, adlh penolakan tubuh thdp kandungan gula alami susu
ditenggarai menghasil beragam reaksi alergen hingga penyakit berat
- Secara
medis pun sebenarnya dikenal reaksi penolakan tubuh terhadap dua konten
dominan susu binatang tersebut
- Dari
konten lactose (gula susu) hingga kasein (protein) susu binatang umumnya
sangat berat! Dan sulit diterima
oleh tubuh
- Susu
binatang, walau bentuknya cair, tp kandungan substansinya itu sangat
kompleks, sehingga diperlakukan layaknya makanan padat oleh tubuh
- Kalau
rutin minum susu (apalagi kuat), ya jangan bingung kalau anak menjadi
susah makan *ngakak*
- Giliran
ditanya, "Rajin dikasih susu binatang ya?" Jawabnya "Kalau
gak minum susu rutin, gimana dapet gizinya? Udh sukur susunya kuat"
Lah?
- Untuk
kesekian kalinya dicurhati ttg "anak sulit makan, gimana caranya ya?"
KULTWIT dari https://twitter.com/erikarlebang
Baca dari bawah ke atas y ^^
